Serangkaian upaya untuk merawat ingatan publik akan kekerasan yang terjadi pada aktivis Andrie Yunus dilakukan di tengah pengusutan kasus yang belum tuntas.
Oleh Kurnia Yunita Rahayu
Area Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat, yang biasanya sepi terasa lebih ramai pada Minggu (12/4/2026) siang. Tak hanya mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, sejumlah pemuda berkumpul untuk membuat sebuah mural di tepi jalan yang berbatasan langsung dengan Kali Ciliwung itu. Suara cat yang disemprotkan ke permukaan tripleks, tempat mereka menggambar, lebih sering terdengar ketimbang knalpot kendaraan.
Hampir dua jam, gambar yang dibuat di atas tripleks berukuran 7,2 meter x 2,4 meter itu mulai terlihat. Ada wajah seorang lelaki berambut panjang dan raja bermahkota yang menggerakkan 12 orang dengan tali. Di antara gambar lelaki dan raja yang bernuansa hitam dan merah itu terdapat tulisan ”Solidaritas untuk Andrie Yunus”.
”Bagian raja yang mengendalikan orang-orang dengan tali ini adalah yang paling kami garis bawahi,” tutur Kemas (29), salah satu writers atau seniman grafiti yang membuat mural solidaritas untuk Andrie Yunus.
Sambil meneruskan gambarnya, Kemas menegaskan, bagian dimaksud menjadi krusial karena setelah 30 hari penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus terjadi, kasus tersebut belum terungkap seluruhnya. Masih ada celah antara temuan investigasi Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) dan hasil penyelidikan TNI.
Investigasi TAUD menemukan, penyiraman air keras terhadap Andrie yang merupakan aktivis sekaligus Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) melibatkan 16 orang gabungan antara kelompok sipil dan militer. Namun, penyelidikan TNI baru menemukan empat tersangka yang berlatar belakang intelijen anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.
Untuk itu, gambar raja dan orang-orang yang dikendalikan dibuat tak berwajah. Hanya ada bentuk tubuh penanda keberadaan orang-orang tanpa identitas, mahkota di kepala raja untuk menunjukkan peran sebagai pemegang kuasa tertinggi atau auktor intelektual dalam penyiraman air keras, serta sebuah tulisan ”Adili Pelaku”.
Konsep tersebut merupakan hasil diskusi Kemas dan Ale (26), writers mural solidaritas untuk Andrie Yunus, dengan para aktivis Kontras. Sejak Jumat (10/4/2026), atau dua hari sebelumnya, para seniman grafiti asal Jakarta itu diajak bergabung dengan kelompok masyarakat sipil untuk mengadakan peringatan 30 hari pasca-serangan air keras terhadap Andrie. Mereka diajak untuk membuat mural tepat di lokasi tempat Andrie disiram air keras.
Bagi Kemas dan Ale, tidak sulit untuk mengejawantahkan konteks penyerangan dengan air keras yang belum diusut tuntas itu. Sebab, sejak penyerangan berlangsung pada 12 Maret lalu, mereka mengikuti perkembangan isu tersebut secara intens. Berbagai ide visual untuk merespons kejadian itu juga sudah muncul.
Namun, tidak mudah menemukan ruang untuk mewujudkannya. Penyerangan terhadap Andrie menjadi intimidasi yang secara tidak langsung menghadirkan ketakutan untuk menyampaikan kritik.
”Grafiti itu, kan, pengin bersuara untuk jujur. Namun, untuk cari cara bersuara juga bingung gitu, takutnya nanti kena juga. Ada kekhawatiran ke situ, jujur, seram juga,” ungkap Kemas.
Alhasil, ajakan untuk berkolaborasi yang disampaikan Kontras pun disambut dengan antusias oleh Kemas dan Ale. Bagi mereka yang sudah bertahun-tahun menggambar di tembok-tembok kota, membuat karya yang bisa memantik kesadaran publik akan kondisi sosial yang tengah berlangsung merupakan cita-cita yang selalu ingin diwujudkan.
Apalagi, grafiti yang dibuat di ruang publik kerap kali lebih mudah menyita perhatian masyarakat. Dengan begitu, Kemas pun berharap, warga tetap mengingat bahwa kasus penyerangan air keras yang terjadi pada Andrie belum tuntas.
”Dengan talent yang kami punya, kami mau mengingatkan warga bahwa ada 16 pelaku yang terlibat, bukan hanya empat orang,” ujar Kemas.
Tak hanya bagi para seniman, Hasbi, warga setempat, juga mengakui ketakutan serupa. Kendati penyiraman air keras selalu menjadi pembicaraan di kalangan warga, itu hanya bisa dilakukan di ruang terbatas, misalnya, di dalam rumah.
Sebagian besar masyarakat di lingkungannya merasa khawatir ada bahaya yang mengintai jika membicarakannya secara terang-terangan di ruang publik. Padahal, ada banyak kejanggalan yang ingin didiskusikan mengingat mereka ada di sekitar lokasi ketika Andrie disiram air keras. Mereka juga menyaksikan proses demi proses ketika kasus diusut oleh aparat.
”Tapi gimana ya, kita takut kenapa-kenapa. Andrie Yunus saja bisa disiram air keras, berarti, kan, kita juga bisa kena kalau macam-macam,” tutur Hasbi.
Merawat ingatan
Pembuatan mural di lokasi penyiraman air keras terhadap Andrie bukan satu-satunya kegiatan untuk memperingati 30 hari peristiwa tersebut.
Kontras juga menggelar walking tour atau tur dengan berjalan kaki ke sejumlah tempat yang dikunjungi Andrie pada hari penyerangan. Sebelum disiram air keras di Jalan Talang, ia sempat menjadi pembicara siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), lalu mengisi bensin sepeda motor di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cikini.
Berkaca dari itu, tur pun dimulai dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jalan Diponegoro, Menteng, lalu menuju SPBU Cikini, Taman Diponegoro, kemudian berakhir di Jalan Talang.
Di setiap tempat, aktivis Kontras kembali menjelaskan peristiwa yang terjadi pada Andrie berdasarkan hasil investigasi. Tak hanya itu, di Taman Diponegoro, peserta tur juga dipersilakan untuk menuliskan surat untuk mengungkapkan pernyataan ataupun pesan pribadi yang akan disampaikan kepada Andrie.
Aditya Gumay dari Divisi Kampanye dan Jaringan Kontras mengatakan, tur dengan berjalan kaki dipilih sebagai metode untuk mengedukasi masyarakat mengenai penyerangan terhadap Andrie tepat di lokasi peristiwa itu terjadi. Langkah tersebut juga populer dilakukan untuk memperkenalkan kota dan sejarahnya.
Dengan langkah yang sama, pihaknya berharap agar masyarakat tetap mengingat peristiwa yang menimpa Andrie sekaligus menuntut agar negara mengusut kasus ini secara tuntas, serta membentuk tim gabungan pencari fakta.
Apalagi, penyerangan terhadap Andrie bukan satu-satunya kasus kekerasan yang dilakukan aparat terhadap warga sipil. Catatan Kontras, sepanjang Juli 2024-Juni 2025, terdapat 602 peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh polisi terhadap warga. Sementara pada Oktober 2024-September 2025, ada 85 peristiwa kekerasan terhadap warga yang melibatkan TNI.
Pada sejumlah kasus itu, kata Aditya, proses hukum cenderung stagnan. Akibatnya, peristiwa demi peristiwa juga perlahan terlupakan oleh masyarakat.
”Dengan demikian, perlu untuk mendorong publik supaya tetap mengingatnya. Kami juga ingin mengedukasi publik bahwasannya pelaku dalam operasi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus tidak hanya empat orang, tetapi ada 16 orang (berdasarkan hasil investigasi TAUD). Itu juga belum menyentuh auktor intelektualisnya,” tutur Aditya.
Lebih dari itu, kata Aditya, tur berjalan kaki dan pembuatan mural solidaritas untuk Andrie Yunus diharapkan bisa mendorong terciptanya ruang aman bagi warga untuk berekspresi di dalam kota. Setiap lokasi di kota harus bisa menjadi ruang belajar bagi publik mengenai berbagai peristiwa tanpa ada ancaman kekerasan yang menyertai bagi setiap orang yang menggelutinya, tidak terkecuali di Jalan Talang.
DICKY Infografik
Sejak sebulan lalu, Jalan Talang pun semestinya tak hanya diingat publik sebagai kawasan pinggir Menteng yang sepi dan hampir terlupa karena keberadaannya tertutup berbagai gedung tinggi. Jalan Talang yang kini dihiasi mural solidaritas untuk Andrie Yunus juga harus menjadi pengingat soal perjuangan untuk memertahankan kebebasan sipil di tengah ancaman kekerasan dan pembungkaman yang masih terus mengintai.