Konflik di Timur Tengah telah berdampak pada industri logistik di Indonesia. Sejumlah perusahaan menyiapkan strategi untuk menghadapi ketegangan geopolitik ini.

Oleh Abdullah Fikri Ashri

Konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah berdampak pada industri logistik di Indonesia. Sejumlah perusahaan pun menyiapkan strategi di tengah ketegangan geopolitik dengan memanfaatkan teknologi hingga menaikkan biaya pengiriman.

Serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 telah menjalar ke rantai pasok logistik global. Konflik ini membuat Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran di Teluk Persia yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia. Akibatnya, harga minyak melonjak.

Harga minyak mentah sempat menembus 100 dolar AS per barel. Padahal, sebelum perang meletus, harganya berkisar 70 dolar AS per barel. Kondisi ini berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak, termasuk avtur yang melonjak rata-rata 70 persen di Indonesia.

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.
KOMPAS/ARIE

Bahkan, harga avtur untuk penerbangan internasional melambung hingga 80 persen pada April 2026 jika dibandingkan bulan Maret. Kenaikan harga avtur bisa berbeda-beda setiap bandara. Sejumlah perusahaan logistik pun menyiapkan langkah untuk menghadapi lonjakan harga avtur.

FedEx, perusahaan logistik yang berbasis di AS, misalnya, terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Selain memonitor fluktuasi harga energi, perusahaan juga tengah mengumpulkan data terkait area berbahaya. Semuanya akan jadi bahan evaluasi untuk mengambil keputusan.

”Dengan kenaikan harga minyak, kami masih memonitor apakah nanti akan berdampak ke (biaya logistik) kami atau tidak. Kami masih mengumpulkan data terkait hal tersebut,” ujar Ida Ayu Eka Restini, Senior Manager Operations FedEx Indonesia, di Jakarta, Senin (13/4/2026) malam.

Hingga kini, Ayu mengklaim belum ada kenaikan tarif pengiriman barang oleh FedEx Indonesia. Salah satu strategi perusahaan untuk menjaga tarif ialah dengan mengoptimalkan armada. Selama ini, FedEx mengandalkan pesawat sendiri untuk mengirim barang ke sekitar 220 negara.

”Karena kami punya pesawat sendiri, jadi lebih terkendali cost (biayanya). Kami bisa lebih (leluasa) mengatur dan memperkirakan ke depannya seperti apa. Ini yang kami lakukan saat ini. Jadi, belum ada (kenaikan tarif pengiriman barang),” ungkap Ayu.

Menurut dia, selama ini, dalam komponen tarif FedEx sudah terdapat fuel surcharge atau biaya tambahan yang dikenakan perusahaan atas biaya bahan bakar. Dengan demikian, pihaknya belum memutuskan untuk menaikkan biaya tambahan itu meski harga avtur tengah melonjak.

Hal ini berbeda dengan langkah FedEx dan perusahaan logistik lainnya di AS yang menaikkan biaya pengiriman barang. FedEx dan United Parcel Service (UPS) tercatat menaikkan biaya tambahan BBM sebesar 21-52 persen bergantung pada jenis layanan (Kompas.id, 5/4/2026).

Ayu mengatakan, FedEx Indonesia akan menginformasikan lebih lanjut apabila terjadi penyesuaian tarif logistik akibat konflik di Timur Tengah. Menurut Ayu, penyampaian informasi yang tepat kepada pelanggan merupakan salah satu strategi dalam menghadapi dampak perang.

Melalui situs resminya, FedEx mengumumkan adanya pembaruan layanan di Timur Tengah. Perusahaan terus memantau dan mengevaluasi situasi di area konflik. FedEx menyediakan layanan penjemputan dan pengiriman barang di seluruh wilayah dengan syarat kondisinya aman.

”Memang ada zona yang berbahaya. Jadi, kami selalu memperbarui (informasi) di website, seperti kode pos ini berbahaya untuk mengirim barang karena konflik dan sebagainya,” ujar Ayu. Apalagi, pihaknya telah memanfaatkan sistem informasi geospasial untuk memantau gerak kurir.

Selain pembaruan informasi, pemanfaatan teknologi, termasuk akal imitasi (AI), juga menjadi strategi perusahaan logistik di tengah konflik. Dalam pelacakan paket, misalnya, konsumen tidak hanya mengetahui pergerakan barangnya, tetapi juga dapat terhubung dengan layanan pelanggan.

Selain itu, FedEx juga menyediakan asisten virtual yang dapat menjawab berbagai pertanyaan pelanggan. AI bahkan dapat membantu perusahaan logistik dalam memprediksi kondisi cuaca, trafik di suatu negara, dan rute tercepat jika terjadi penutupan akses udara di zona konflik.

FedEx pun memanfaatkan senseaware, perangkat sensor berbasis internet yang dapat mengukur suhu. Alat ini membantu pengepakan barang yang membutuhkan suhu tertentu. ”Misalnya, kita kirim barang dari sini musim panas dan di AS musim dingin. Dengan alat ini, kita tahu suhu yang tepat,” ujar Ayu.

Masih optimistis

Meskipun konflik di Timur Tengah masih berlanjut, Ayu tetap optimistis pada industri logistik di Indonesia. Dengan penduduk sekitar 280 juta jiwa dan lokasinya yang strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik, Indonesia punya posisi penting dalam rantai pasok logistik global.

”Kami melihat prospek (industri logistik) ke depan masih bagus. Kami melihat UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) punya potensi untuk memperluas pasar mereka, baik domestik maupun regional dan global,” ujarnya. Dengan 65 juta UMKM, Indonesia menjadi target bagi perusahaan logistik.

Selama ini, pengguna FedEx umumnya adalah UMKM dan korporasi besar dengan sistem business to business (B2B). Ayu tidak menyebutkan detail jumlah pelanggan dan komposisi antara UMKM dan korporasi, tetapi umumnya dari sektor manufaktur, tekstil dan produk turunannya, serta perdagangan daring (e-commerce).

Adapun produk yang kerap dikirim dari Indonesia melalui FedEx adalah pakaian, kerajinan tangan, gift (hadiah), hingga furnitur. Menurut Ayu, pengiriman barang juga masih bertumbuh. Ketika masa Lebaran tahun ini, misalnya, pertumbuhannya mencapai 30 persen dibandingkan dengan hari biasa.

Meski demikian, tantangan industri logistik di Indonesia adalah kondisi geografis. ”Setelah barang masuk di Jakarta, tantangannya adalah menyalurkannya ke pulau-pulau. Dari sisi transportasi, ini menambah biaya. Itu sebabnya, kami punya mitra yang membantu pengiriman sampai ke daerah timur,” lanjutnya.

Biaya logistik

Selama ini, biaya logistik di Indonesia cukup tinggi, yakni mencapai 14,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2023. Angka ini jauh di atas rata-rata biaya logistik negara-negara di Asia Tenggara, yakni 8-10 persen dari PDB.

Ongkos logistik pun berpotensi meningkat di tengah ketegangan geopolitik. Bahkan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengatakan, lonjakan harga minyak mentah dunia telah berdampak pada kenaikan biaya pengiriman barang.

”Kenaikan biaya pengiriman barang impor dan ekspor melalui moda angkutan laut, misalnya, telah mencapai hingga tiga kali lipat. Bahkan, beberapa pelayaran mengalami blank sailing (pembatalan pelayaran),” ujar Trismawan. Gangguan pelayaran ini juga berdampak pada kenaikan harga plastik.

Padahal, banyak industri di hilir yang membutuhkan plastik. Terganggunya industri produsen juga berdampak besar terhadap keberlangsungan industri logistik dalam negeri akibat berkurangnya permintaan layanan logistik. Biaya operasional dan asuransi pengiriman barang juga naik.

”ALFI berharap kebijakan pemerintah untuk menahan kenaikan harga BBM dalam negeri dapat mendorong produktivitas kegiatan ekonomi nasional. Diperlukan juga strategi kebijakan untuk menjaga stabilitas pasokannya agar kegiatan ekonomi bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan resminya mengatakan, pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga energi. ”Kita masih punya pertahanan berlapis sehingga masyarakat enggak usah takut. Saya masih memastikan uangnya ada,” ujarnya (Kompas.id, 8/4/2026).

Head of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio menilai, salah satu jalan untuk melindungi industri logistik adalah memberikan insentif, terutama pelaku UMKM. Biaya muatan transportasi pun perlu dikurangi.

”Secara keseluruhan, tentu kita berharap daya beli masyarakat tetap bertahan sehingga masih bisa mengonsumsi produk-produk yang saat ini juga harga akhirnya sudah mulai naik. Ini yang harus diperhatikan. Pemerintah perlu menahan biaya logistik tidak membengkak lagi,” ujarnya.