Pembangunan ekosistem semikonduktor nasional tidak bisa dipahami sebagai proyek jangka pendek, tetapi sebagai investasi strategis lintas generasi.

Oleh Galih Ramadana Suwito

i tengah-tengah krisis di Timur Tengah, masyarakat terperangah akan alutsista modern nan cerdas negara-negara maju. Yang sangat menarik perhatian adalah kecanggihan drone kamikaze tanpa awak, sebut saja LUCAS buatan Amerika Serikat dan HESA Shahed 136 buatan Iran yang dilengkapi dengan modul RF dan cip LDO modern dalam operasinya.

Sudah bukan rahasia umum lagi, semua peranti modern memerlukan (micro)chip yang merupakan otak yang terbuat dari material semikonduktor. Jangankan perangkat militer, mobil ataupun kulkas yang kita miliki pastilah memiliki cip semikonduktor di dalamnya.

Sebagai gambaran, satu unit kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) memiliki paling tidak 200 cip semikonduktor. Tak ayal, negara yang mampu menguasai teknologi semikonduktor memiliki perekonomian yang solid, dan wajar jika sangat waspada dalam menjaga kerahasiaan teknologinya.

Krisis yang terjadi di Timur Tengah juga telah mengganggu rantai pasok global, bukan hanya minyak, melainkan juga semikonduktor. Selain saat pandemi Covid-19, kita juga telah sebelumnya menyaksikan bagaimana perang Rusia dan Ukraina membuktikan ketidakstabilan rantai pasok semikonduktor terhadap iklim geopolitik. Tidak berlebihan jika Chris Miller dalam bukunya Chip War mendeskripsikan microchips as the new oil.

Memahami pentingnya semikonduktor, Pemerintah Indonesia melalui Danantara menandatangani kontrak kerja sama dengan Arm, perusahaan semikonduktor raksasa asal Inggris pada 28 Februari 2026. Hal tersebut merupakan hasil gerilya dan interaksi yang dilakukan oleh Satgas Semikonduktor bentukan pemerintah dengan pergerakan diaspora Indonesia seperti INEST (Indonesian Strategic Network for Semiconductor Technology) dan Diastra (Jerman).

Kerja sama ini memberikan sinyal pendekatan bottom-up yang sedang dirintis pemerintah untuk membangun ekosistem semikonduktor nasional melalui desain cip. Pendekatan dari sektor desain cip atau dikenal dengan fabless manufacturing, sangat bertumpu pada kesiapan SDM nasional. Hal ini berbeda dengan pendekatan top-bottom melalui assembly, testing, and packaging (ATP), yang berhasil dilakukan oleh Vietnam.

Jika dalam permainan catur kita mengenal langkah pembuka gambit, pendekatan bottom-up memiliki sifat serupa dengan gambit. Langkah ini bisa dibilang high riskhigh reward. Keputusan ini menuntut komitmen pemerintah untuk berinvestasi lebih jauh dalam pengembangan SDM. Namun, jika dieksekusi dengan baik, akan memberikan keunggulan untuk positioning program semikonduktor nasional.

Walaupun tidak memerlukan fasilitas manufaktur fisik yang mahal, aktivitas sektor hulu memerlukan pool talenta chip designers yang masif. Sektor ini memerlukan intervensi cukup tinggi dari pemerintah dan memerlukan orkestrasi yang baik antar-stakeholders. Hal ini karena tingginya persaingan di pasar. Produk nasional akan dihadapkan dengan produk hasil puluhan tahun riset dan pengembangan dari kompetitor asing yang sudah memahami pasar.

Perjanjian strategis Pemerintah Indonesia dengan Arm terkemas dalam bingkai Arm Total Access yang akan melatih 15.000 insinyur Indonesia dalam ekosistem Arm dan pengembangan special project bersama. Angka 15.000 sangatlah ambisius dan perlu diikuti dengan rencana delivery yang matang.

Layaknya taman bunga, untuk dapat mekar, talenta-talenta ini perlu disiapkan lahan yang subur. Intervensi pemerintah harus melibatkan katalisasi tumbuhnya usaha rintisan (start-up) semikonduktor dalam negeri dan menarik banyak investasi asing (FDI) di sektor ini. Hal ini meliputi orkestrasi perihal komersialisasi inovasi dengan kampus-kampus dalam negeri serta integrasinya dengan program technopreneurship yang telah ada. Tanpanya, pelatihan ”15.000 insinyur” ini hanyalah rangkaian seminar dengan skala besar saja.

KOMPAS/SUPRIYANTO
 

KOMPAS/SUPRIYANTO

Selain itu, orkestrasi pemerintah juga harus melibatkan diaspora semikonduktor Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dalam hal ini kita dapat berkaca dari Taiwan dan China, yang sukses ”memberdayakan” diaspora mereka dalam pembangunan industri strategis ini. Dalam hal ini, diaspora dapat dilibatkan sebagai bagian dari arsitektur kebijakan nasional, baik dalam perumusan kurikulum, pengembangan roadmap industri, hingga pendampingan start-up chip nasional.

Layaknya middlegame dalam permainan catur, langkah Indonesia tidak boleh berhenti pada pembukaan yang menjanjikan. Setelah ”gambit” melalui pendekatan fabless, pemerintah perlu menyiapkan kelanjutan strategi pada sektor hilir secara paralel.

Pengalaman Vietnam menunjukkan bahwa keberhasilan membangun ekosistem semikonduktor tidak hanya bertumpu pada satu segmen rantai nilai. Sambil memperkuat sektor assembly, testing, and packaging (ATP), Vietnam juga mulai menyiapkan pembangunan fasilitas manufaktur (fab) sebagai lompatan strategis berikutnya. Langkah simultan seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan industri semikonduktor memerlukan visi berlapis dan konsistensi jangka panjang.

Indonesia perlu mempertimbangkan pendekatan hibrida yang mengombinasikan pembuatan sektor hulu melalui desain cip dengan perencanaan sektor hilir secara bertahap. Pendekatan ini penting untuk memastikan keberlanjutan rantai nilai domestik. Tanpa integrasi vertikal yang terencana, Indonesia berisiko hanya menjadi penyedia talenta global tanpa memperoleh manfaat ekonomi strategis di dalam negeri.

Untuk itu, secara paralel pemerintah juga harus menyiapkan talenta semikonduktor pada disiplin ilmu dasar yang menjadi fondasi industri ini, bahkan hingga ke tingkatan semiconductor physics dan solid state physics. Sebagai contoh, di instansi tempat saya mengajar di University College London (UCL) dan University of Cambridge, mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Teknik Elektro. Tanpa fondasi ilmiah yang kuat, kapasitas desain nasional akan sulit berkembang secara berkelanjutan.

Karena itu, pembangunan ekosistem semikonduktor nasional tidak bisa dipahami sebagai proyek jangka pendek, melainkan sebagai investasi strategis lintas generasi. Langkah gambit yang telah dimulai pemerintah melalui desain cip harus diikuti dengan konsistensi kebijakan, kesinambungan pendanaan, serta orkestrasi talenta yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Jika langkah ini dijalankan secara disiplin dan berkesinambungan, bukan tidak mungkin Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai pemain relevan dalam peta industri semikonduktor global.

Galih Ramadana Suwito, Dosen Fisika Semikonduktor di University College London (UCL) dan University of Cambridge, Inggris