Diskursus mengenai angkutan logistik tak ada habisnya dibahas. Ragam solusi untuk menjawab persoalan kerap diungkapkan, tetapi belum ada perubahan berarti.
Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
Gerbong-gerbong datar untuk angkutan barang terus diproduksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA. Hasil produksinya lantas digunakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias PT KAI untuk memenuhi kebutuhan pengiriman komoditas.
KAI terus mengirimkan gerbong datar guna memenuhi kebutuhan pengiriman komoditas. Nantinya, gerbong yang akan didistribusikan hingga Juli 2026 ini akan diperuntukkan menambah kapasitas angkutan barang di Sumatera bagian selatan.
Berdasarkan catatan KAI, hingga pertengahan April 2026, setidaknya 13 rangkaian kereta (trainset) yang setara 780 unit gerbong datar telah berada di Simpang, Divisi Regional III Palembang, Sumatera Selatan. Proses distribusi masih berjalan secara bertahap.
Saat ini, satu trainset yang terdiri atas 60 gerbong datar menjalani proses bongkar muat di lokasi. Rangkaian ini akan menjalani uji statis pada Senin (20/4/2026) guna memenuhi tahap kesiapan operasional. Satu trainset lainnya masih dalam perjalanan dari Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Simpang, Palembang.
”Rangkaian pengiriman ini merupakan bagian dari total 1.125 gerbong datar yang akan didistribusikan hingga Juli 2026. Penambahan sarana ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas angkutan barang di Sumatera bagian selatan, terutama dalam mendukung distribusi komoditas strategis,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba, secara tertulis, di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Gerbong-gerbong yang diproduksi INKA di Banyuwangi ini memiliki tingkat komponen dalam negeri yang tinggi. Tiap trainset terdiri atas 60 unit gerbong tipe BM 54 ton dengan kapasitas muat 15 ton per unit sehingga satu rangkaian dapat mengangkut hingga 900 ton dalam sekali perjalanan.
Gerbong datar bertipe BM 54 ini, Anne melanjutkan, dirancang guna mengangkut berbagai komoditas berat dan berdimensi besar, antara lain kontainer, material konstruksi, dan batubara. Selama ini, penggunaan gerbong datar di Sumatera banyak digunakan untuk mengirimkan batu bara dengan volume yang meningkat dari periode-periode sebelumnya.
Pada Maret 2025, volume batubara yang diangkut mencapai 4,44 juta ton. Angkanya naik 4,46 persen menjadi 4,63 juta ton pada Maret 2026. Mobilitas ini menunjukkan kebutuhan pasokan listrik masyarakat dan industri yang meningkat di sejumlah tempat.
”Penguatan sarana angkutan barang ini kami arahkan untuk memastikan distribusi komoditas strategis, termasuk batubara untuk pembangkit listrik dapat berjalan konsisten dan tepat waktu,” kata Anne.
Investasi yang digelontorkan untuk pengadaan 1.125 unit gerbong datar ini mencapai Rp 1,05 triliun. Arah pengembangan ini juga mendukung pergeseran distribusi logistik ke moda yang lebih efisien dan rendah emisi.
Pada Maret 2025,