Fragmen mikroplastik dan nanoplastik yang sangat kecil telah masuk ke berbagai organ tubuh manusia, termasuk ke dalam otak yang merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang paling terlindungi. Penelitian terbaru menunjukkan, konsentrasi mikroplastik dan nanoplastik lebih tinggi diamati pada jaringan otak yang terkena tumor dibandingkan pada jaringan otak sehat.
Studi baru tersebut, yang dilakukan oleh para peneliti China, menemukan mikroplastik dan nanoplastik di hampir semua sampel otak yang mereka uji, baik otak manusia yang sehat maupun yang sakit. Runting Li, peneliti dari Department of Neurosurgery, Capital Medical University, Beijing, menjadi penulis pertama laporan yang dipublikasikan di Nature Health pada 20 April 2026.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/29/263d8b715b9e11d2f73a83b1bb5be09c-microplastics_found_in_3.jpg)
Riset ini menunjukkan tingkat mikroplastik dan nanoplastik (MNP) yang ditemukan mencapai 129 mikrogram per gram pada jaringan otak yang terkena tumor. Jaringan otak dan sumsum tulang belakang yang sehat memiliki tingkat yang jauh lebih rendah, dengan median 50,3 mikrogram per gram.
”Studi ini memberikan bukti keberadaan MNP di otak manusia hidup, menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan sebab-akibat antara MNP dan penyakit manusia,” sebut Runting Li dan tim.
Pintu masuk
Studi telah menemukan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan, makan, dan kontak kulit. Berbagai laporan telah menunjukkan bukti-bukti bagaimana mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh manusia.
Di sisi lain, otak dilindungi oleh filter yang sangat selektif yang disebut sawar darah-otak, yang dirancang untuk mencegah zat berbahaya masuk ke organ terpenting kita. Namun, penelitian sebelumnya menemukan bahwa mikroplastik entah bagaimana dapat melewati pertahanan ini dan masuk ke otak. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena sangat sedikit yang diketahui tentang apa yang dilakukan partikel asing ini setelah berada di dalam, ke mana mereka pergi dan menetap, atau konsentrasi apa yang dapat mereka capai.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, para peneliti menggunakan alat-alat canggih seperti spektroskopi inframerah langsung laser resolusi tinggi (LDIR) dan mikroskopi elektron pemindaian (SEM) untuk memeriksa 191 sampel otak. Sebanyak 156 sampel dikumpulkan dari 113 pasien hidup yang menjalani operasi untuk tumor seperti glioma dan meningioma dan 35 sampel dari lima donor post-mortem dengan otak yang sehat untuk melihat apakah plastik hadir dalam jaringan otak normal.
Pengamatan lebih dekat mengungkapkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik hadir di hampir semua sampel. Sebanyak 99,4 persen sampel jaringan yang sakit dan 100 persen sampel jaringan yang sehat.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/29/1a8eb3968065997bbb9a01b6b8a69171-microplastics_found_in_4.jpg)
Nanoplastik, yang berukuran lebih kecil, lebih melimpah daripada mikroplastik. Tim bahkan mampu mengidentifikasi jenis plastik asal partikel-partikel kecil tersebut, yaitu dari PET, yang sering digunakan untuk membuat botol minuman; polietilen, yang umum digunakan dalam kantong plastik; poliamida yang membentuk tekstil seperti nilon dan PVC yang ditemukan dalam peralatan perpipaan dan industri.
Pada otak yang sakit, kadarnya tidak seragam di seluruh jaringan, dengan konsentrasi yang lebih tinggi di dekat tumor, mungkin karena melemahnya perlindungan alami. Mereka mendeteksi partikel-partikel ini di lingkungan ruang operasi, meningkatkan kemungkinan paparan selama prosedur medis.
Analisis mereka juga menemukan bahwa semakin besar luas permukaan mikroplastik, semakin cepat pertumbuhan sel tumor. Meskipun ini tidak berarti mikroplastik menyebabkan kanker, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang peran yang mungkin dimainkan mikroplastik dan nanoplastik dalam seberapa cepat penyakit tersebut berkembang, suatu area yang menurut para peneliti membutuhkan eksplorasi lebih lanjut.
Mikroplastik di hati
Penelitian terbaru lainnya, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology edisi April 2026, mengungkap bahaya dari cemaran mikroplastik dan nanoplastik ke dalam hati. Penelitian ini dilakukan tim dari Center of Environmental Hepatology dari Universitas Plymouth.
Penulis utama artikel ini Shilpa Chokshi, Profesor Hepatologi Eksperimental Universitas Plymouth, mengatakan, cemaran partikel plastik ini kemungkinan turut meningkatkan penyakit hati secara global dan bertanggung jawab atas satu dari 25 kematian di seluruh dunia. ”Sudah ada bukti kuat bahwa plastik dapat menumpuk dan menyebabkan kerusakan pada hati hewan sehingga menimbulkan pertanyaan penting, mengapa manusia harus berbeda?” katanya.
<img alt="Instalasi karya Benjamin Von Wong berjudul " the="" thinker's="" burden",="" dibuat="" di="" depan="" kantor="" pbb="" geneva,="" tempat="" berlangsungnya="" perundingan="" global="" untuk="" mengakhiri="" polusi="" plastik,="" seperti="" terlihat="" senin="" (4="" 8).="" ini="" akan="" berlangsung="" hingga="" 15="" agustus="" 2025,="" diikuti="" oleh="" 175="" negara."="" data-cke-saved-src="https://assetd.kompas.id/cSYIfm6tM1uvzWP-R07JP5LEbL4=/1024x768/smart/filters:format(webp):quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/08/05/080ababa7839f7ac967d140d57fffdc3-20250804AIK1.JPG" src="https://assetd.kompas.id/cSYIfm6tM1uvzWP-R07JP5LEbL4=/1024x768/smart/filters:format(webp):quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/08/05/080ababa7839f7ac967d140d57fffdc3-20250804AIK1.JPG">
Melalui tinjauan luas terhadap studi yang ada, Chokshi dan tim menyatakan telah menemukan bukti jelas bahwa paparan mikro dan nanoplastik dapat memicu stres oksidatif, fibrogenesis, dan peradangan pada hewan, ciri-ciri yang menyerupai penyakit hati stadium lanjut pada manusia.
Hati yang bertindak sebagai benteng pertahanan utama tubuh memproses dan mendetoksifikasi semua yang dikonsumsi manusia. Masuknya partikel plastik ke dalam hati memungkinkan pengangkutan patogen mikroba, penentu resistensi antimikroba, bahan kimia pengganggu endokrin, dan zat tambahan karsinogenik ke dalam sistem tubuh manusia.
Temuan cemaran mikroplastik dan nanoplastik ke dalam organ tubuh manusia juga telah banyak dilaporkan di Indonesia. Peneliti Ecoton, misalnya, telah melaporkan adanya partikel plastik pada darah, sperma, hingga air ketuban yang diperiksa di Jawa Timur.
Berbagai temuan masuknya mikroplastik dan nanoplastik ke dalam organ tubuh manusia ini menjadi alarm seriusnya persoalan ini. Di sisi lain, mengatasi polusi mikroplastik dan nanoplastik membutuhkan tindakan bersama dari para pembuat kebijakan, produsen, dan konsumen. Temuan dari studi ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik dan mendorong permintaan akan perubahan, membantu mendorong kebijakan yang didasarkan pada bukti.