Tabrakan kereta di Bekasi Timur memicu keprihatinan warganet. Minimnya respons KAI dalam momen vital 60 menit pertama ”golden hour” memunculkan atensi negatif.

Oleh Yohanes Advent Krisdamarjati

Litbang Kompas menganalisis unggahan dan komentar di media sosial yang berkenaan dengan peristiwa tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Sentimen negatif mendominasi. Namun, di tengah situasi krisis, PT KAI dapat membendung sentimen negatif sehingga lebih condong ke nuansa netral. Meski demikian, momen vital 60 menit pertama setelah kecelakaan sudah terlewat, narasi publik telanjur menguat lebih dulu.

Pada Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.52 WIB, Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek 4 relasi Gambir–Surabaya Pasarturi menabrak rangkaian KRL Commuter Line PLB 5568A yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan keras menyebabkan gerbong khusus perempuan di bagian belakang KRL ringsek parah. Bagian depan lokomotif kereta jarak jauh merangsek hingga setengah badan gerbong. Sejumlah penumpang terjepit, 16 penumpang meninggal dan 90 orang mengalami luka-luka. Jalur lintas Bekasi–Cikarang lumpuh total.

Kejadian ini merupakan rentetan peristiwa berantai. Diawali kejadian taksi listrik Green SM mogok dan tertemper KRL di Jalur Pelintasan Langsung 85 dekat kawasan Bulak Kapal. Hal tersebut mengharuskan KRL 5568A berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Dugaan sementara, masinis KA jarak jauh tidak merespons sinyal aspek merah penanda harus berhenti. Akibatnya, terjadi tabrakan yang tak terhindarkan.

Empat belas menit berselang setelah tabrakan, muncul konten video di akun Youtube Kandjeng Files yang memperlihatkan sudut pandang seseorang berada di lokasi kejadian. Video diunggah tepatnya pada pukul 21.06 WIB. Dalam video berdurasi 4 menit 24 detik tersebut tampak tanda waktu atau time stamp pengambilan gambar pada pukul 20.53, hanya berselang satu menit setelah tabrakan terjadi.

Konten tersebut adalah satu dari ribuan konten yang diunggah di media sosial sesaat setelah tabrakan. Belum ditambah dengan siaran langsung atau live di media sosial milik orang-orang di sekitar lokasi kejadian.

Dalam perspektif manajemen krisis, 60 menit pertama merupakan momen emas atau golden hour bagi pemangku kepentingan untuk memberikan informasi yang akurat dan cepat kepada publik. Kecepatan dan ketepatan guna mengantisipasi terjadinya vakum informasi. Ketiadaan informasi dari pihak berwenang membuka celah bagi siapa pun untuk memunculkan spekulasi serta rumor.

Dengan adanya informasi dari pihak otoritas, pengendalian narasi pada satu jam pertama akan meredam opini liar yang bisa muncul dan memperkeruh situasi. Pengendalian narasi disertai dengan penyampaian permohonan maaf secara resmi merupakan poin krusial ketika terjadi krisis seperti halnya kecelakaan kereta di Bekasi Timur.

Infografik Kompas.id Golden Hour: 60 Menit Pertama Masa Kritis Respons Krisis.
Gunawan

Ragam topik percakapan warganet

Pemantauan dan analisis media sosial dilakukan Litbang Kompas melalui Kompas Monitoring selama periode 27-30 April 2026. Kata kunci yang disematkan adalah ”kecelakaan kereta di Bekasi”. Hasilnya sebanyak 37.462 unggahan dan komentar berhasil terhimpun dari enam platform media sosial, yaitu Tiktok, Facebook, X (Twitter), Youtube, Instagram, dan Threads. Data tersebut kemudian diolah, diverifikasi, dan dianalisis untuk memetakan ragam topik percakapan, framing publik, dan sentimen warganet.

Dari puluhan ribu konten yang terkumpul, sebanyak 63,4 persen bersentimen negatif, 35,8 persen netral, dan hanya 0,8 persen positif. Secara garis besar, sentimen mencerminkan kemarahan dan keprihatinan mendalam warganet terhadap insiden ini.

Konten dan percakapan dikelompokkan menjadi sepuluh kluster topik yang masing-masing dengan profil sentimen yang berbeda pula.

Infografik-Sentimen Warganet Terhadap Peristiwa Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur
Topik yang paling membuat warganet geram ada pada peran taksi listrik Green SM dalam rangkaian kecelakaan ini. Sentimen negatif mencapai 99,6 persen. Warganet menyebut taksi tersebut sebagai ’biang keladi’, ’taksi ijo yang bermasalah’, bahkan menuntut pembekuan izin operasi perusahaan taksi tersebut.

Framing yang dominan pada topik ini adalah kemarahan yang diarahkan langsung kepada perusahaan taksi dan pengemudinya, bukan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI). Namun, ada pula sebagian warganet mengarahkan kemarahan ke dua pihak sekaligus, yakni pengemudi taksi yang dianggap menerobos palang pelintasan dan sistem keselamatan KAI yang dinilai tidak memadai untuk mencegah efek domino seperti ini.

Topik kedua yang memantik sentimen negatif hingga 99,2 persen adalah dugaan human error, khususnya menyangkut fungsi PPKA (pemimpin perjalanan kereta api) Stasiun Bekasi Timur yang diduga terlambat menyampaikan informasi kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek.

Framing pada topik ini cenderung menyoroti sistem manajemen operasional KAI secara keseluruhan, bukan hanya individu petugas. Banyak warganet yang mempertanyakan mengapa di era teknologi canggih, koordinasi antar-rangkaian kereta masih bisa mengalami kegagalan fatal seperti ini.

Erat kaitannya dengan topik miskomunikasi, masalah sistem persinyalan juga menjadi perdebatan sengit yang memunculkan 99,5 persen sentimen negatif. Warganet yang memiliki pengetahuan teknis perkeretaapian aktif mendiskusikan kemungkinan kegagalan sistem sinyal sebagai faktor penyebab pendukung, human error bukan menjadi faktor tunggal.

Topik berikutnya yang juga bernuasa negatif menyangkut manajemen PT KAI, termasuk nama Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin. Warganet menuntut pertanggungjawaban langsung dari pimpinan tertinggi perusahaan. Absennya pernyataan langsung dari pimpinan tertinggi PT KAI pada 60 menit pertama atau golden hour menyulut ujaran yang dominan nuansa negatifnya.


Infografik-Topik Percakapan Warganet Seputar Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur
DIMAS TRI ADIYANTO
 
Respons PT KAI

Berkebalikan dari serentetan topik sebelumnya, percakapan seputar respons resmi PT KAI didominasi sentimen netral dengan angka 86,4 persen, dengan hanya 12,1 persen negatif dan 1,5 persen positif. Data tersebut menunjukkan bahwa warganet merespons informasi resmi dari pihak otoritas, lebih terarah untuk memperhatikan aspek investigasi, evaluasi, dan pembenahan setelahnya.

Namun, hal yang perlu dicermati adalah unggahan resmi PT KAI berkaitan dengan kecelakaan di Bekasi Timur baru muncul menjelang pukul 23.00 WIB. Salah satu contohnya pada akun Instagram kai121_ yang mengunggah konten berjudul ”KAI Sampaikan Permohonan Maaf dan Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur” sekitar pukul 22.43 WIB. Hampir 2 jam setelah kecelakaan terjadi. Celah respons yang cukup lama menyebabkan terjadinya vakum informasi dan menyulut berbagai spekulasi di jagat media sosial.

Infografik Kompas.id Adu Cepat Informasi Warganet dengan PT KAI.
 

Wajah PT KAI yang muncul di fase awal setelah kejadian adalah Manajer Humas Daop 1 Franoto Wibowo. Hadir pula VP Corporate Communication PT KAI Anne Purba di lokasi kejadian, yang menyampaikan paparan situasi terkini proses evakuasi korban luka-luka dan korban meninggal.

Di lapangan, pergerakan jajaran PT KAI dapat dikatakan cukup tangkas. Penyaluran informasi satu pintu secara cepat dan akurat sudah dilakukan. Namun, dua hal tersebut perlu juga secara cepat disampaikan melalui kanal media sosial.

Akun-akun media sosial resmi PT KAI dan Commuter Line baik apabila dalam jendela waktu tertentu dijadikan sebagai kanal utama penyampaian informasi yang runut, cepat, dan akurat. Harapannya, warganet dapat memperoleh informasi yang jernih di tengah kegaduhan situasi krisis yang terjadi. (LITBANG KOMPAS)