Sejak awal tahun, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih di pasar saham. Bukan hanya karena tekanan global, melainkan juga karena ketidakpastian domestik.

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pertumbuhan ekonomi nasional dalam tiga bulan pertama 2026 yang melejit di atas konsensus pasar berlawanan dengan kinerja pasar modal Indonesia yang kinerjanya cukup menantang sepanjang periode sama. Pengamat meminta pemerintah memberikan bukti konkret mengenai kualitas ekonomi Indonesia.

Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Pertumbuhan tertinggi sejak lima tahun terakhir ini ditopang oleh kenaikan pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21 persen secara tahunan, disusul pertumbuhan investasi (5,96 persen), dan belanja rumah tangga (5,52 persen). Namun, pertumbuhan ekonomi ini dinilai belum tecermin di pasar modal.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia menilai, optimisme pasar masih tertahan oleh keraguan terhadap keberlanjutan dan kedalaman kualitas pertumbuhan tersebut.

Infografik Sumber Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kelompok Pengeluaran
KOMPAS/ARIE

Infografik Sumber Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kelompok Pengeluaran

Tekanan pada pasar modal masih terasa. Ini tecermin dari porsi jual bersih (net sell) asing di pasar saham yang secara kumulatif sepanjang triwulan I-2026 mencapai Rp 32,85 triliun. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aliran dana keluar di pasar surat berharga negara (SBN) pada triwulan I-2026 sebesar Rp 25,09 triliun.

Liza mengungkapkan, pasar kini menanti kembalinya aliran modal asing (foreign inflow) ke pasar SBN dan saham, serta perbaikan pada neraca eksternal.

”Pasar melihat lebih dari sekadar angka PDB headline. Validasi nyata dari jargon pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan harus tecermin pada indikator riil yang berkualitas, seperti kenaikan upah riil, penurunan kemiskinan, dan penguatan konsumsi nonsubsidi,” ujar Liza dalam catatannya, Selasa (5/5/2026).

Menurut analisis Kiwoom Sekuritas Indonesia, kinerja ekonomi triwulan I-2026 menunjukkan fenomena pertumbuhan tanpa kedalaman. Pertumbuhan ekonomi terlihat kuat secara angka, tetapi komposisinya bergantung pada dorongan fiskal dan program pemerintah.

Grafik perkembangan arus dana dan volume transaksi investor asing dan domestik di pasar saham RI sejak awal tahun 2026 hingga 20 April 2026.
RTI Business

Grafik perkembangan arus dana dan volume transaksi investor asing dan domestik di pasar saham RI sejak awal tahun 2026 hingga 20 April 2026.

Lonjakan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen menjadi faktor pembeda utama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akselerasi belanja negara, distribusi tunjangan hari raya, serta implementasi program prioritas berskala besar, seperti perluasan drastis program Makan Bergizi Gratis, menjadi motor penggerak utama.

Di sektor investasi, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen berkat proyek hilirisasi dan investasi besar. Namun, Liza mencatat bahwa efek pengganda dari investasi ini masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya dirasakan oleh ekonomi riil.

Di sisi lain, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi sebesar 2,14 persen secara tahunan akibat pembatasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) serta transisi kebijakan hilirisasi.

Sementara itu, pertumbuhan impor yang mencapai 7,18 persen secara tahunan jauh melampaui ekspor yang hanya tumbuh 0,90 persen. Hal ini turut memperlebar tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.

”Tanpa perbaikan pada indikator-indikator kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan, angka 5,61 persen lebih tepat dibaca sebagai pertumbuhan berbasis stimulus fiskal dan proyek tahap awal,” kata Liza.

Analis DBS Research Bank DBS Indonesia, William Simadiputra, mengatakan, pasar modal Indonesia memang mencatatkan kinerja yang cukup menantang, setelah menjadi salah satu pasar dengan kinerja terbaik pada 2025.

Tekanan berupa pelemahan indeks dan arus keluar modal asing (capital outflow) yang terjadi saat ini di satu sisi dinilai respons wajar pasar terhadap ketidakpastian global, terutama terkait eskalasi konflik di Iran. Meski demikian, ia menegaskan bahwa fundamental korporasi di Indonesia tetap kokoh sepanjang kuartal pertama tahun ini.

”Meskipun kinerja laba emiten sepanjang triwulan I-2026 tercatat cukup resilien, investor tetap bersikap hati-hati mencermati dampak perang terhadap kondisi makroekonomi dan prospek laba perusahaan mulai triwulan II-2026 dan seterusnya,” tutur William.

Terkait kinerja pasar Indonesia yang berada di bawah ekspektasi regional, William menilai hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan kekhawatiran dampak konflik global, tetapi juga terhadap ekonomi domestik serta dinamika tinjauan lembaga penyedia indeks dan pemeringkat kredit global.

Untuk memulihkan kepercayaan investor dan menghadapi volatilitas, William menekankan pentingnya langkah-langkah strategis dari pemerintah dan pemangku kepentingan pasar modal. Menurut William, implementasi kebijakan makroekonomi yang kredibel sangat krusial untuk menahan gejolak pasar.

Selain itu, pemerintah disarankan untuk merespons masukan dari investor, termasuk terkait dengan isu indeks MSCI dan pemeringkatan kredit, guna meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Di sisi lain, William menyoroti pentingnya peran institusi keuangan domestik sebagai penyeimbang. ”Peningkatan alokasi ekuitas oleh institusi keuangan domestik sangat penting untuk memperkuat partisipasi di pasar,” kata William.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026, Selasa (5/5/2026), mengungkapkan, pergerakan pasar saham dan obligasi masih fluktuatif.

Meski demikian, dari sisi aliran dana asing, investor asing mulai kembali mencatatkan pembelian bersih. Hingga 29 April 2026, di pasar surat berharga negara, investor asing mencatat pembelian bersih sebesar Rp 8,8 triliun secara bulanan. Nilai net sell sejak awal tahun pun mengecil menjadi Rp 16,29 triliun sejak awal tahun.

Kinerja pasar obligasi domestik pun menunjukkan penguatan pada bulan lalu. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tercatat naik 0,74 persen secara bulanan ke level 436,38 pada akhir April 2026.

Sementara itu, di pasar saham, net sell masih berlanjut hingga akhir April 2026 menjadi Rp 46,5 triliun dari awal tahun, dibandingkan Rp 32,85 triliun sepanjang triwulan I-2026. Indeks harga saham gabungan pun ditutup melemah 1,3 persen secara bulanan pada level 6.956 atau telah terkoreksi sebanyak 19,55 persen sejak awal tahun.

Untuk industri reksa dana, OJK melaporkan, investor di aset tersebut cenderung untuk tetap melakukan subscription dengan angka netsubscription sebesar Rp 8,11 triliun secara bulanan dan total sebesar Rp 37,24 triliun sejak awal tahun.

Pasar modal domestik, menurut Hasan, masih menjadi pilihan korporasi untuk mendapatkan sumber pembiayaan jangka panjang. Sepanjang empat bulan pertama 2026, nilai fundraising atau penggalangan dana oleh korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp 56,35 triliun.

Adapun untuk penggalangan dana melalui securities crowdfunding atau SGF, total nilai dana dihimpun telah mencapai angka Rp 1,93 triliun.