Peningkatan volume ekspor tidak akan berarti banyak bagi kesejahteraan nasional apabila di saat yang sama, kita masih harus terus-menerus mengimpor bahan bakunya.
Oleh Ruslan Effendi
Kinerja makroekonomi perdagangan luar negeri Indonesia sering kali dibanggakan. Ada transisi struktur ekspor nonmigas yang kini didominasi oleh sektor industri pengolahan/manufaktur. Pencapaian ini tentu saja patut diapresiasi. Secara statistik, ekspor nonmigas kita pada periode 2020–2024 sangat didominasi oleh komoditas industri pengolahan dengan rata-rata kontribusi mencapai 79,14 persen per tahun. Bahkan, pada 2024, nilai ekspor komoditas industri pengolahan menyumbang porsi hingga 79,15 persen dari total ekspor nonmigas.
Namun, di balik megahnya angka statistik ekspor manufaktur tersebut, tersimpan sebuah paradoks struktural yang berisiko menciptakan fenomena enklave atau kantong ekspor. Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika sektor industri yang berorientasi global berkembang pesat, tetapi tetap terisolasi dari struktur ekonomi hulu di dalam negeri. Kondisi tersebut terjadi karena rantai pasoknya sangat bergantung pada negara lain.
Jebakan enklave ini terbukti secara empiris ketika kita membedah data struktur impor nasional. Di saat ekspor kita dipenuhi oleh barang olahan pabrik, impor kita justru sangat didominasi oleh bahan baku dan barang penolong. Selama kurun waktu 2015-2024, golongan bahan baku/penolong secara konsisten menjadi bagian terbesar dari total impor Indonesia dengan rata-rata pangsa mencapai 74,28 persen setiap tahunnya.
Pada 2024 saja, impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku/penolong dengan nilai mencapai 170.715,4 juta dolar AS yang memberikan peran absolut 72,58 persen dari total impor nasional. Sebaliknya, impor barang konsumsi yang sering kali dikhawatirkan membanjiri pasar, nyatanya merupakan golongan barang yang paling sedikit diimpor oleh Indonesia, yakni hanya berperan 9,27 persen atau senilai 22.730,7 juta dolar AS pada 2024.
Dari data Badan Pusat Statistik kita melihat bahwa kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia masih sangat padat impor. Di satu sisi, ekspor manufaktur mencapai 79,15 persen. Namun, di sisi lain, impor bahan baku juga mendominasi hingga 72,58 persen. Kondisi ini mencerminkan bahwa sektor industri berorientasi ekspor di Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan input dari luar negeri.
Pabrik-pabrik orientasi ekspor memang tumbuh di dalam negeri, tetapi keberlanjutan produksinya sangat ditentukan oleh kelancaran impor bahan baku dan komponen. Akibatnya, nilai tambah domestik yang tercipta belum optimal karena sebagian devisa hasil ekspor kembali keluar untuk membiayai kebutuhan input impor.
Ketergantungan ini semakin rentan jika melihat konsentrasi negara mitra dagang kita. Pada 2024, pemenuhan kebutuhan impor Indonesia sangat terpusat dengan China mendominasi secara absolut dengan kontribusi 31,40 persen atau senilai 73.853,1 juta dolar AS. Jika rantai pasok dari China terganggu, kapasitas produksi manufaktur domestik yang ditujukan untuk ekspor bisa langsung lumpuh.
Untuk membongkar isolasi enklave ekspor ini dan menciptakan kemandirian industri, terdapat tiga langkah kebijakan strategis yang mutlak harus dieksekusi.
Pertama, pendalaman integrasi rantai pasok domestik. Strategi perdagangan tidak boleh hanya berfokus pada dorongan ekspor, tetapi juga harus disertai dengan substitusi impor bahan baku/penolong. Sektor hulu domestik harus dibangun dan ”dikawinkan” dengan industri hilir agar pabrik-pabrik manufaktur menyerap input dari dalam negeri sehingga nilai tambah benar-benar mengendap di ekonomi lokal.
Kedua, diversifikasi pasar secara agresif. Konsentrasi impor bahan baku dan tujuan ekspor pada segelintir negara (terutama Tiongkok) merupakan risiko sistemik. Ekspansi pasar ke wilayah-wilayah non-tradisional harus dipercepat melalui perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif untuk membagi risiko guncangan rantai pasok.
Ketiga, hilirisasi lanjutan menuju barang jadi. Meski ekspor manufaktur kita tinggi, sebagian besarnya masih berupa barang olahan dasar (setengah jadi). Sebagai bukti, ekspor kelompok komoditas industri logam dasar masih mendominasi dengan kontribusi 23,65 persen (setara 46,9 miliar dolar AS) dari total ekspor industri pengolahan tahun 2024. Indonesia harus mendorong hilirisasi tahap kedua menuju produk akhir yang lebih bernilai tambah dan harganya tidak mudah terombang-ambing oleh fluktuasi komoditas global.
Peningkatan volume ekspor tidak akan berarti banyak bagi kesejahteraan nasional apabila di saat yang sama, kita masih harus terus-menerus mengimpor bahan bakunya. Kesuksesan ekspor yang sejati adalah ketika sektor hulu lokal ikut berdenyut kencang setiap kali sebuah peti kemas diberangkatkan ke luar negeri.
Ruslan Effendi ASN, Alumnus Program Doktoral Akuntansi UGM