Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal rupiah dinilai menyepelekan dampak ekonomi dari pelemahan rupiah bagi warga desa.
Oleh Nina Susilo
Kurva harga minyak mentah dunia masih terus menanjak. Ketidakstabilan harga minyak membuat nilai rupiah makin rentan. Akar masalah pada pengelolaan fiskal dan kepercayaan masyarakat semestinya diatasi pemerintah.
Harga minyak mentah Brent terus naik dan ditutup di angka 109,26 dolar AS per barel pada Jumat (15/5/2026). Angka ini kira-kira naik 3 persen dari sebelumnya. Harga minyak mentah West Texas Intermediate juga naik 4 persen dan bertengger di 105,42 dolar AS per barel.
Bloomberg mencatat kenaikan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan China setelah bertemu Presiden China Xi Jinping, tidak menghasilkan kemajuan berarti terutama terkait distribusi energi di Selat Hormuz. Sementara perang yang diinisiasi Amerika Serikat dan Israel yang membuat Iran menutup Selat Hormuz masih tak jelas kapan berakhir.
Pasar pun diperkirakan akan terus mengalami kekurangan persediaan minyak mentah (undersupply) sampai Oktober bila konflik sejak akhir Februari ini terus berlangsung.
Kepala strategi komoditas TD Securities, Bart Melek, mengkhawatirkan berlanjutnya penutupan Selat Hormuz akan memperparah disrupsi energi. ”Semakin khawatir sistem energi bisa mengalami kerusakan parah bila aliran minyak mentah tidak berjalan lagi, bahkan bisa mengakibatkan harga mencapai 150 dolar (per barel),” ujarnya pada Bloomberg, 15 Mei 2026.
Di Indonesia, kendati ada cuti bersama, pelemahan rupiah tak ikut libur. Rupiah pun melampaui Rp 17.600 pada akhir pekan ini.
Kenaikan harga minyak mentah, menurut peneliti ekonomi CSIS, Deni Friawan, tak akan stabil selama konflik antara AS-Israel dan Iran masih berlangsung, penutupan Selat Hormuz masih terjadi, serta masih ada pihak yang saling menyerang.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama untuk distribusi 20 persen minyak mentah dunia. Sampai saat ini, alternatif pengganti untuk 20 persen minyak dunia itu masih belum ada.
Selain itu, menurut Deni, tensi ketidakpastian bukan hanya terjadi di Timur Tengah, melainkan juga dalam hubungan AS-China. Kunjungan Presiden AS Trump ke China pun tak membuahkan hasil, padahal Trump berharap besar Xi Jinping mau ikut menekan Iran membuka Selat Hormuz.
Infografik Riset Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS 1998-April 2026
Kondisi eksternal ini langsung berdampak ke nilai rupiah. Namun, menurut Deni, kendati faktor-faktor eksternal ini memang berdampak pada nilai rupiah, salah satu akar masalah yang membuat nilai rupiah sangat rentan adalah faktor-faktor internal.
”Baik (kebijakan) fiskal maupun ketidakjelasan kebijakan pemerintah dalam menanggapi krisis yang terjadi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan menimbulkan ketakutan mereka terhadap perekonomian Indonesia ke depan. Faktor-faktor ini berdampak pada melemahnya rupiah,” tutur Deni saat dihubungi Minggu (17/5/2026).
Karena itu, menurut Deni, pemerintah perlu segera mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan menunjukkan kebijakan yang tepat. ”Dari sisi fiskal, pemerintah harus bisa menunjukkan penghematan fiskal dan mengalokasikannya pada pengeluaran-pengeluaran yang lebih produktif dan lebih bisa menggerakkan ekonomi, misalnya mengurangi pembiayaan MBG dan Koperasi Merah Putih,” ujar Deni.
Selain defisit fiskal itu, tekanan pada nilai tukar rupiah juga disebabkan defisit transaksi berjalan (current account deficit). Ini terjadi karena kendati neraca perdagangan barang selalu positif, tetapi di neraca primer tidak demikian. Neraca jasa baik deviden, jasa shipping logistik, asuransi, maupun ekspatriat selalu defisit dibandingkan dengan pendapatan devisa pekerja migran dan devisa dari wisatawan asing.
Karena itu, menurut Deni, kendati tujuh langkah stabilisasi yang diambil Bank Indonesia ataupun aktivasi bond stabilisation fund oleh Kementerian Keuangan dinilai tepat, hal itu tak akan berpengaruh banyak, kecuali apabila masalah struktural ini tak diatasi.
”Langkah-langkah itu hanya bisa meredam sementara, tapi pelemahannya sendiri akan terus terjadi. Karena akar masalahnya nggak diatasi,” ucapnya.
Direktur Kolaborasi Internasional Indef Imaduddin Abdullah juga menilai, berlanjutnya pelemahan rupiah tidak hanya akibat penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung, tetapi juga diperkuat beberapa faktor musiman. Faktor musiman itu antara lain tingginya permintaan BBM di AS pada musim panas, sementara stok minyak mentah AS turun 4,3 juta barel atau hampir dua kali lipat dari ekspektasi.
Suku bunga The Fed juga masih tinggi. Akibatnya, selisih imbal hasil menyempit dan aset dolar menjadi lebih menarik. Demikian pula kenaikan yield obligasi di negara-negara maju mempersempit selisih imbal hasil dengan aset rupiah. Semua ini mempercepat arus modal keluar.
Imaduddin sepakat bahwa kredibilitas fiskal ikut memengaruhi rentannya nilai tukar rupiah. Ketika asumsi APBN 2026 sudah sangat jauh dari realitas saat ini, defisit anggaran pada Maret 2026 sudah mendekati satu persen dari PDB. Semua ini masih ditambah beban subsidi energi terus membengkak dan belanja program-program prioritas berbudget jumbo seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dan belanja alutsista.
”Hal ini membuat pasar mempertanyakan komitmen pemerintah menjaga batas defisit tiga persen,” ujarnya.
Infografik Kurs Rupiah Harian dan Cadangan Devisa RI
Tak hanya itu, cadangan devisa terus terkikis empat bulan berturut-turut. Pertanyaan soal kapasitas intervensi Bank Indonesia ke depan pun muncul. Cadangan devisa akhir April 2026 di angka 146,2 miliar dolar AS. Sebulan sebelumnya, angka ini 148,2 miliar dolar AS. Angka ini terus menurun sejak 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025.
Padahal, kebutuhan valuta asing di bulan-bulan ini tinggi untuk pembayaran dividen investor asing dan jemaah haji.
Karena akar masalah berada di kondisi domestik, Imaduddin menyarankan pembenahan kebijakan fiskal dan moneter. Di sisi fiskal, pemotongan atau penundaan program-program besar seperti MBG harus menjadi prioritas.
”Jika tidak, ada potensi defisit melebar dan melanggar batas 3 persen, yang pada akhirnya semakin memukul kepercayaan investor,” katanya.
Dalam kondisi global bond yield yang naik, lanjut Imaduddin, investor akan semakin sensitif terhadap risiko fiskal dan meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset rupiah. Jika kredibilitas fiskal melemah, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar karena investor lebih memilih aset dolar yang lebih aman.
Dari sisi moneter, sinyal bahwa BI independen menjadi sangat penting. Sebab, lanjutnya, pasar sangat sensitif terhadap persepsi bahwa independensi bank sentral mungkin melemah. Kepercayaan investor membutuhkan sinyal bahwa kebijakan moneter dijalankan secara profesional dan bebas dari tekanan politik
”Kunci utamanya adalah kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter,” kata Imaduddin.
Selain itu, transparansi kebijakan makroekonomi juga dinilai penting. Pemerintah harus secara proaktif mengembangkan kerangka kebijakan makroekonomi yang terkonsolidasi dan transparan untuk memulihkan kredibilitas kebijakan.
Pencopotan dua pejabat eselon I Kementerian Keuangan tanpa alasan jelas menjadi salah satu indikator tiadanya transparansi kebijakan. Selain itu, masyarakat saat ini lebih sulit mengakses APBN. Para pejabat pun tak transparan dengan kondisi fiskal.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa cenderung sekadar mengatakan kondisi fiskal aman tanpa menjelaskan lebih lanjut indikatornya.
Lebih lagi, Presiden Prabowo Subianto seakan meremehkan pelemahan rupiah yang tak kunjung berakhir. ”Sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, akan chaos, akan apa. Rupiah begini rupiah begitu. Rakyat di desa nggak pakai dollar kok,” tuturnya, Sabtu (16/5/2026), dalam peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.
Presiden berpendapat, sepanjang pangan dan energi tercukupi, semua akan baik-baik saja di Indonesia. Menurut dia, pelemahan nilai rupiah atas dolar AS hanya akan memengaruhi warga yang sering bepergian ke luar negeri. ”Mbak Titiek nih yang suka keluar negeri,” selorohnya kepada mantan istrinya, Siti Hediati Hariyadi yang lebih dikenal dengan Titiek Soeharto dan kini menjabat Ketua Komisi V DPR.
Pendapat Presiden Prabowo tersebut, menurut Imaduddin, menunjukkan ketidakpekaan Presiden terhadap masalah yang terjadi. Kendati warga desa tidak menggunakan dolar AS secara langsung, pelemahan nilai rupiah berimbas ke mana-mana, termasuk ke kehidupan warga desa.
”Banyak barang yang dipakai warga desa dan harganya sangat dipengaruhi (nilai tukar) dolar mulai dari BBM, LPG, pupuk, obat, pakan ternak, alat pertanian, bahan pangan impor, sampai ongkos logistik. Kalau rupiah melemah, biaya impor naik, biaya produksi naik, lalu pelan-pelan masuk ke harga barang di pasar/warung. Jadi dampaknya tetap sampai ke desa, walaupun tidak langsung kelihatan,” tutur Imaduddin.
Efek pelemahan rupiah di desa, lanjut Imaduddin, bisa saja baru terlihat beberapa minggu setelahnya. Namun, semua ini akan berimbas pada kenaikan biaya produksi yang kemudian dibebankan kepada konsumen, termasuk konsumen di perdesaan.
Karena itu, menurut Imaduddin, sesungguhnya kelompok warga desa paling rentan dengan akibat ikutan dari pelemahan rupiah. Sebab, ketika harga-harga naik, pendapatan warga belum tentu ikut naik.