AI memang mempermudah wisatawan sekaligus pelaku usaha dalam mengelola perencanaan-perencanaannya. Namun, seberapa jauh teknologi bisa mengganti peran manusia?

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

Akal imitasi alias artificial intelligence (AI) telah diadopsi banyak sektor, termasuk pariwisata. Dari kacamata pelaku perjalanan, kecanggihan teknologi ini membantu perencanaan berwisata makin praktis hanya dengan beberapa sentuhan pada gawai masing-masing. Namun, promosi besar-besaran tanpa narasi yang mumpuni tidak akan berjalan optimal sekalipun didukung teknologi mutakhir.

Kini, AI menjadi salah satu aspek di garda terdepan yang membentuk kembali industri pariwisata. Sebab, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi, personalisasi, dan keberlanjutan.

Dalam laman Badan Pariwisata Dunia (UN Tourism), AI diproyeksikan berkontribusi terhadap 15,7 triliun dolar Amerika Serikat (AS) hingga 19,9 triliun dolar AS bagi ekonomi global pada 2030. AI generatif menambah dengan menyumbang 2,6 triliun dolar AS sampai 4,4 triliun dolar AS secara tahunan.

Kecerdasan generatif adalah salah satu kategori AI yang mencetak hasil baru berdasarkan data yang terkumpul sehingga mampu membuat gambar, teks, dan audio baru.

Dengan adanya AI, efisiensi operasional dan opsi destinasi makin terkurasi. AI berperan dalam merevolusi strategi operasional dari analitik prediksi untuk destinasi ke perubahan harga dinamis untuk perhotelan.

Pada 2026, AI diperkirakan bakal mengelola 95 persen interaksi pelanggan. Teknologi ini bisa menyediakan akses dengan ragam teknologi majunya untuk mendukung operasional operator kecil dan komunitas-komunitas yang selama ini kurang direpresentasikan pihak lain.

Chief Executive Officer Trip.com Group Jane Sun mengatakan, AI membantu sejumlah pekerjaan dalam pariwisata. Konkretnya, teknologi tersebut meningkatkan keamanan dan menyederhanakan proses boarding atau masuk ke pesawat. Sistem biometrik berkontribusi pada pengalaman berwisata yang lebih aman.

Robot-robot AI mulai digunakan dalam sektor pelayanan, seperti menjaga kebersihan dan melayani tamu (concierge). Beberapa bandara juga mempekerjakan robot untuk mengelola bagasi dan membantu pelanggan.

”Untuk pelanggan, masa depan smart travel planning dicontohkan dengan menguraikan permintaan-permintaan kompleks secara efisien dan dengan cepat membantu pengguna untuk menyusun rencana perjalanan, menyusun pesanan, dan rekomendasi terpersonalisasi,” tutur Sun dikutip dari laman World Economic Forum.

Pada 2023, Trip.com meluncurkan versi maju asisten perjalanan AI yang bernama TripGenie. Alat ini dibuat lebih nyaman dan dipersonalisasi untuk membantu menyusun rencana perjalanan (itinerary) pelanggan.

Ketika pelanggan menanyakan rencana perjalanan dengan durasi tertentu, maka asisten perjalanan ini akan mengirimkan rencana perjalanan kurang dari satu menit. Ragam rekomendasi diberikan, antara lain titik-titik turis dan destinasi belanja, bahkan menyertakan pula dengan tautan pemesanan, foto, dan peta kota dalam tampilan dialog.

”Seiring kami lanjut berkembang dalam dunia AI, kemungkinan-kemungkinannya tidak hanya menarik; mereka tidak terbatas. AI tidak lantas mengubah cara kita beperjalanan, tetapi mengubah esensi pengalaman perjalanan kita, membuat lebih efisien, intuitif, dan sangat beragam,” tutur Sun.

Dalam satu platform

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan AI memudahkan wisatawan mancanegara (wisman) untuk berinteraksi dengan pedagang Indonesia di ragam daerah. Platform tersebut dapat membantu mereka saling berinteraksi.

”Turis-turis China, misalnya, datang dalam grup dan tidak bisa berbahasa Inggris. Nah, sekarang kalau lihat turis China, mewakili anak muda, baik generasi Z maupun milenial semuanya datang. Why? Mereka punya mesin ini (AI). Kalau enggak bisa (bahasa lokal), AI bisa bantu terjemahkan,” tutur Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ni Made Ayu Marthini dalam forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Para turis dapat menggali ragam pengalaman dengan platform digital. Mereka tidak lagi khawatir pergi ke berbagai tempat yang baru. Di kawasan Bromo, Jawa Timur, misalnya, kini banyak pedagang bisa berbahasa China karena banyak turis asal ”Negeri Tirai Bambu” bepergian ke sana.

Guna mengikuti perkembangan zaman dan mengoptimalkan promosi pariwisata Indonesia, Kemenpar telah memperkenalkan produk AI yang disebut Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA). Platform yang bisa diakses melalui Indonesia.travel ini digadang-gadang menjadi wadah baru transformasi digital pariwisata Indonesia.

MaiA yang diluncurkan pada November 2025 ini dapat berperan sebagai kurator cerdas sekaligus asisten perjalanan digital. Ia dapat memberikan rekomendasi destinasi yang dipersonalisasi, menyusun rencana perjalanan secara otomatis, menawarkan peta interaktif, serta merangkum informasi destinasi dalam berbagai bahasa.

”Sejak diluncurkan pada 26 November 2025 sampai sekarang jadi tujuh bulan, 60 persen penggunanya masih domestik, sedangkan 40 persennya (pengguna) internasional. Hal ini baik, terutama (digunakan) dari China. MaiA memiliki 19 bahasa asing,” ujar Made.

Siapa pun yang mengakses MaiA dapat memberikan informasi preferensi perjalanannya, sehingga membantu pemerintah untuk menyusun strategi yang lebih personal dan efektif.

Ke depan, pemerintah ingin menggandeng banyak pelaku industri pariwisata, seperti maskapai penerbangan, hotel, dan penyelenggara wisata lainnya mempromosikan produknya dalam platform resmi Kemenpar.

Platform ini akan berbeda dengan agen perjalanan daring (OTA) yang mengedepankan kepercayaan. Seluruh aspek dalam platform dapat dipertanggungjawabkan setelah melalui kurasi ketat.

Infografik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2026
KOMPAS/PANDU/Infografik Perkembangan Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2026
 
Pentingnya narasi

Setiap informasi yang dimasukkan pengguna ke laman internet dapat menciptakan algoritma yang membentuk pola tersendiri. Informasi ini yang digunakan pelaku usaha wisata untuk memahami karakter dan preferensi tamu-tamunya.

”Jadi yang kami lihat sekarang ini bukan era mencari informasi, bukan sekadar Google, melainkan menyaring informasi. Jadi itu yang paling penting. Saring informasi ini yang kami backup di industri perhotelan,” ujar Chief Operating Officer Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego.

Dengan adanya AI, pengusaha dapat mengkurasi dan mengelompokkan detail informasi calon pelaku perjalanan. Pengusaha menggunakan aplikasi khusus untuk mencari informasi berdasarkan kata-kata kunci tertentu, ketika pengguna mencari akomodasi atau menyusun rencana perjalanannya.

”Pertanyaan terbesar sekarang adalah, siapa yang memutuskan Bapak menginap atau pergi jalan-jalan? Yang memutuskan itu Bapak, Ibu, atau AI?” kata Eduard.

Saat ini, pihaknya mengarah pada pembuatan OTA mandiri dan memaksimalkan media sosial. Melihat tren wisatawan yang kerap haus validasi saat menginap di hotel, maka pihaknya fokus memanjakan para tamu untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hotel akan dibuat sedemikian rupa agar mereka nyaman dan membagikan pengalamannya di media sosial.

Meski AI memang memicu perubahan pesat, tetapi Eduard tetap menekankan pentingnya sentuhan manusia. Apalagi, industri yang digarap pada bidang pelayanan.

”Jadi, satu-satunya jalan memang kita (perlu) memperkuat (kompetensi) sebagai manusia, di mana our intelligence is not artificial. Rekomendasi dari mana pun akan kalah dengan pengalaman,” ucapnya.

Di tengah arus informasi yang begitu deras, beragam platform berlomba-lomba memanfaatkan algoritma agar produk atau destinasi tertentu dilirik wisatawan. Ragam cara dilakukan agar masuk dalam laman utama mesin pencari, tepat setelah wisatawan memasukkan preferensi berliburnya.

Meski demikian, AI saja tidak cukup tanpa cerita yang menarik wisatawan untuk berkunjung. Sebab, persuasi hanya pepesan kosong, jika tak berakhir dengan pelanggan yang memutuskan untuk berkunjung ke suatu destinasi tertentu.

”Kita harus paham karena sehebat apa pun menggunakan AI, kita enggak akan ke mana-mana kalau narasinya tidak bergerak. Karena, kan, bagian terpenting adalah bagaimana akhirnya kita mengubah perilaku (target pasar),” tutur Brand Strategist & Founder Konner Advisory, Silih Agung Wasesa.

Perilaku Berbelanja karena Pemengaruh
PANDU LAZUARDY PATRIARI/Infografik Perilaku Berbelanja karena Pemengaruh

Dalam pengalamannya, saat pengguna atau pelanggan terpapar konten beberapa kali, ternyata belum tentu menggerakkannya untuk mengambil keputusan seperti yang diharapkan. Sebab, tidak disokong dengan narasi yang kuat dan menarik.

Guna membangun cerita yang kuat, kepercayaan mendasar para wisatawan sebagai pengguna media harus dibangun. Pelaku usaha dan pemerintah perlu memikirkan metode promosi yang efisien.

Experience storytelling, Silih melanjutkan, penting dilakukan saat ini. Proses meningkatkan kesadaran, keterlibatan atau interaksi hingga penutupan perlu dilakukan dalam satu siklus.

Persuasi publik dengan menggunakan pemengaruh juga penting. Pemengaruh dengan kisaran 1.000 sampai 10.000 pengikut atau nano influencer lebih efektif untuk menarik perhatian publik. Sebab, algoritma kini tidak lagi melihat kuantitas pengikut.

Nano influencer dapat diajak mengikuti suatu kegiatan atau produk tertentu, lantas membagikan pengalamannya di media sosial. Mereka juga memiliki tingkat keterlibatan dan interaksi yang erat dengan pengikutnya. Tingkat kepercayaan lebih dalam dengan segmen komunitas khusus (niche). Hal ini berbeda dengan pemengaruh besar atau mega influencer yang diikuti lebih dari 1 juta pengikut, tingkat interaksinya pun rendah.

AI memang berperan besar mengubah lanskap industri pariwisata. Praktis, ringkas, dan detail menjadi daya tarik yang ditawarkan teknologi terbaru ini. Namun, memanfaatkan teknologi saja tidaklah cukup, sebab industri jasa tetap bergantung pada sentuhan manusia.