Setelah menjadi gerbang ekspor dan impor mobil, Pelabuhan Patimban mulai melayani arus peti kemas ke luar negeri. Patimban pun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Oleh Abdullah Fikri Ashri
Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat, terus berkembang. Setelah menjadi gerbang ekspor dan impor mobil, pelabuhan ini mulai melayani arus peti kemas ke luar negeri. Patimban pun diharapkan menghadirkan berbagai peluang untuk pertumbuhan ekonomi daerah.
Kapal MSC Aria III dengan panjang lebih dari 200 meter berlabuh di dermaga terminal peti kemas Pelabuhan Patimban, Kamis (9/7/2026) siang. Di sampingnya, dua crane atau alat derek jangkung mengangkut 1.500-1.800 peti kemas ukuran 20 kaki atau TEUs ke kapal raksasa itu.
Menurut rencana, kapal yang datang dari Singapura dan berlabuh di Patimban itu bakal berangkat ke Pelabuhan Laem Chabang (Thailand) pada Jumat (10/7/2026). Selanjutnya, kapal menuju sejumlah daerah di China, yakni Shekou, Ningbo, dan Shanghai, sebelum kembali ke Singapura lagi.
”Layanan peti kemas ini akan berlangsung reguler setiap minggu. Saat ini, masih menggunakan kapal MSC. Namun, akhir bulan ini akan ada perusahaan pelayaran lainnya yang datang,” ujar Direktur Operasi PT Patimban Global Gateway Terminal (PGT) Fian Indiyawanto.
PT PGT merupakan perusahaan yang mengoperasikan terminal peti kemas di Patimban. Terminal seluas 10 hektar ini dapat melayani 250.000 peti kemas per tahun. Saat ini juga pengelola tengah memperluas kapasitas terminal kontainer menjadi 1,65 juta TEUs per tahun.
Terkait fasilitas, terminal telah dilengkapi dengan dua hydraulic mobile crane. Bulan September, pihaknya juga bakal menyediakan sejumlah fasilitas, seperti 9 derek kontainer dengan roda karet (rubber tyred gantry/RTG), 3 alat ship to shore, 4 alat berat penata kontainer (reach stacker), dan 16 truk.
Dengan berbagai fasilitas itu, pihaknya optimistis dapat menjawab kebutuhan industri logistik. ”Saat ini, kami masih fokus melayani pelayaran di Asia, Australia, dan Timur Tengah. Tetapi, kami juga sedang mengkaji untuk rute ke Eropa dan Amerika dalam jangka panjang,” ujar Fian.
Ekspor mobil
Selain terminal peti kemas, Pelabuhan Patimban juga sudah lebih dulu mengoperasikan terminal kendaraan sejak 2022. Terminal seluas 22,4 hektar ini memiliki kapasitas 218.000 kendaraan bermotor utuh (completely built up/CBU) per tahun, baik untuk ekspor maupun impor mobil.
Sepanjang 2025, secara keseluruhan, terminal ini menangani 204.774 kendaraan CBU. Sebagian besar di antaranya, yakni 125.705 kendaraan diekspor paling banyak ke Filipina lalu Jepang. Sebanyak 13.381 unit lainnya merupakan mobil impor sedangkan 65.688 kendaraan dikirim ke domestik.
Hingga Juni 2026, Pelabuhan Patimban telah menjadi pintu gerbang ekspor untuk 63.086 mobil dan impor untuk 7.262 kendaraan. Adapun pengiriman kendaraan untuk domestik, terutama Belawan dan Batam, tercatat 37.110 unit. Setiap bulan terdapat 21-26 kapal yang mengangkut kendaraan itu.
Hiroyuki Yazawa, Presiden Direktur PT Patimban International Car Terminal (PICT), yang mengoperasikan terminal kendaraan, mengatakan, kapasitas pengangkutan kendaraan cenderung meningkat. Sebab, sejak Januari lalu, kapal ukuran besar sudah bisa bersandar karena kedalaman dermaga mencapai minus 14 meter low water spring (LWS).
Pada 2025, kedalaman dermaga masih sekitar minus 10 meter LWS. ”Sebelumnya, kapal yang datang hanya bisa mengangkut maksimal sekitar 4.000 kendaraan. Setelah kedalaman dermaga ditambah, pengangkutan dermaga ke kapal bisa 5.000-6.000 unit,” kata Yazawa.
Adapun rute pelayaran untuk pengiriman kendaraan meliputi Belawan-Batam-Jepang-China-Vietnam-Thailand-Malaysia-Singapura dan kembali ke Patimban. Satu siklus pelayaran ini mencapai 35 hari. Dengan rute yang cukup luas ini, pihaknya optimistis bisa menarik industri otomotif.
”Tentu saja kami mempromosikan pelabuhan ini ke perusahaan Jepang. Namun, kami juga menarik minat perusahaan lain. Di dekat sini ada BYD, perusahaan dari China dan Vinfast dari Vietnam,” ungkap Yazawa. Meski demikian, katanya, setiap perusahaan memiliki pertimbangan untuk memilih Patimban atau Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.
Keunggulan
Fuad Rizal, Chief Executive Officer PT Pelabuhan Patimban International, mengatakan, Pelabuhan Patimban memiliki keunggulan dibandingkan pelabuhan lainnya. Letak Patimban, misalnya, lebih dekat dengan kawasan industri di Karawang Timur dan daerah pantura Jabar.
”Kedalaman dermaga yang mencapai minus 14 meter LWS juga lebih baik dibandingkan kedalaman di Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang) atau Pelabuhan Cirebon. Jadi, Patimban lebih pas untuk kapal besar,” ujar Fuad. Apalagi, pihaknya akan memperluas kapasitas Patimban.
Terminal kendaraan, misalnya, sedang diperluas dari kapasitas sekitar 200.000 kendaraan per tahun menjadi 600.000 kendaraan per tahun. Begitu pula dengan terminal peti kemas yang ditargetkan dapat melayani 1,65 juta TEUs pada tahun ini. Area cadangan sekitar 350 hektar juga disiapkan.
Meski demikian, pengembangan Patimban masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya akses tol yang belum terhubung. Jalan tol sepanjang 37 kilometer yang terintegrasi dari Tol Cikopo-Palimanan ke Patimban hingga kini belum juga tuntas. Selama ini, kendaraan harus menempuh jalan arteri untuk ke Patimban.
”Kalau jalan tol terhubung, waktu tempuh dari kawasan industri hanya 30-40 menit. Saat ini, waktu tempuhnya 1,5 jam-2 jam. Jadi, jika tol terhubung pasti sangat efisien,” ujarnya.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Patimban Mohd Arief Agustian mengatakan, jalan tol ke Patimban ditargetkan selesai pertengahan 2027. Dengan begitu, arus logistik bisa lebih lancar. ”Kehadiran Patimban juga diharapkan dapat mengurangi kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok,” ucapnya.
Kepala Perwakilan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) Kantor Indonesia dan ASEAN Takeda Sachiko mengatakan, terdapat banyak industri di sekitar Patimban, termasuk industri asal Jepang. Itu sebabnya, Patimban perlu dikembangkan untuk melancarkan arus logistik.
Selama ini, pihaknya mendukung penuh pengembangan Patimban. Sejak 2017, pihaknya telah memberikan pinjaman untuk pembangunan pelabuhan. Hingga saat ini, total pinjaman mencapai 272 miliar Yen Jepang atau lebih dari Rp 30 triliun. Tidak hanya itu, pihaknya juga melakukan transfer teknologi dalam pengembangan Patimban.
Takeda berharap kehadiran Patimban dapat menumbuhkan perekonomian di wilayah Rebana Metropolitan, yakni Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang, dan Sumedang.
”Ke depannya, industri akan berkumpul, investasi akan masuk, dan lapangan kerja meningkat. Proyek ini akan menghidupkan perekonomian di masa depan,” ujarnya.