Peristiwa groundbreaking proyek gas pada 16 Juli ini akan menjadi tonggak sejarah transformasi Blok Masela sebagai raksasa gas Nusantara. Indonesia terang!

Oleh Djoko Siswanto

Blok Masela adalah simbol kebesaran potensi energi Indonesia meskipun belum sepenuhnya berwujud nyata. Cadangan gas raksasa telah ditemukan dan dinyatakan tersedia, investasi bernilai puluhan miliar dolar sudah di depan mata, bahkan aneka keputusan strategis pun silih berganti diambil. Faktanya, proyek tersebut sudah berkali-kali tertunda akibat perubahan skema pengembangan, proses perizinan, termasuk dinamika investasi global.

Proyek strategis lapangan abadi di Blok Masela memiliki nilai investasi 20,94 miliar dolar AS, yang ditargetkan berproduksi pada 2029. Proyek ini akan menghasilkan 9,5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel kondensat minyak per hari, membuka lebih dari 12.000 lapangan kerja, memberdayakan masyarakat lokal, hingga menjaga lingkungan melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).

Target produksi LNG dari Blok Masela sebesar 9,5 juta ton per tahun, setara dengan 8,5 juta ton LPG. Angka tersebut sama dengan total konsumsi LPG bersubsidi secara nasional periode 2025. Jadi, Blok Masela ini bukan sekadar legasi, tetapi merupakan salah satu ayunan besar bagi kemandirian energi. Masa depan swasembada energi dicicil dengan langkah-langkah pasti keringat anak negeri.

Penantian selama hampir tiga dasawarsa akan menemui ujungnya. Indonesia segera unjuk diri dengan mengoptimalkan cadangan gas raksasa tersebut sebagai proyek gas laut dalam terbesar yang pernah dibangun di Nusantara. Proyek Strategis Nasional (PSN) Abadi Masela sedang memasuki tahap pengerjaan fisik di Pulau Tanimbar.

Wilayah Tanimbar Selatan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang menjadi lokasi pembangunan pelabuhan gas alam cair (LNG) Blok Masela. Foto diambil Jumat (20/3/2020).
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN

Wilayah Tanimbar Selatan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang menjadi lokasi pembangunan pelabuhan gas alam cair (LNG) Blok Masela. Foto diambil pada 20 Maret 2020.

Pemerintah mematok target peletakan batu pertama pembangunan fasilitas pabrik pengolahan LNG yang bersumber dari Blok Masela harus dilaksanakan segera. Peristiwa tersebut akan menjadi penanda bahwa proyek gas Masela kembali menempati salah satu daftar proyek energi prioritas, salah satu fondasi utama pemerintah dalam mewujudkan target ketahanan energi nasional, sekaligus instrumen penting dalam mengangkat posisi Indonesia sebagai pemain utama gas dunia.

Komitmen utuh Presiden

Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan komitmen dan dukungan percepatan pembangunan proyek Blok Masela sejak awal masa pemerintahannya. Tekadnya ditopang keyakinan bahwa gas Blok Masela sebagai salah satu kekuatan bangsa, sumber utama Indonesia dalam mewujudkan swasembada, melengkapi peran dua blok besar lainnya, yaitu Andaman dan Natuna.

Pesan serupa kembali ditegaskan Presiden Prabowo saat bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan pelaku usaha dalam lawatan kenegaraan ke Jepang, Maret 2026. Presiden menegaskan pentingnya percepatan realisasi proyek yang dikembangkan oleh INPEX bersama para mitranya setelah mengalami penundaan bertahun-tahun lamanya. Ia juga menyampaikan apresiasi investasi Jepang di Indonesia, termasuk proyek INPEX di Blok Masela.

Presiden bahkan telah memberikan perintah khusus kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia agar segera memastikan tidak ada hambatan dalam investasi proyek Masela. Perintah serupa dialamatkan kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Komitmen Presiden Prabowo tidak lepas dari visi besarnya, mewujudkan swasembada energi di Indonesia, sama pentingnya dengan swasembada pangan di tengah ketidakpastian global. Presiden berulang kali menegaskan kunci dari kedaulatan sebuah bangsa terletak pada kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dan energi dari dalam negeri. Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada pasokan negara lain karena munculnya konflik di berbagai kawasan akan mendorong negara-negara tersebut menyimpan sumber energi mereka untuk kepentingan domestik.

Gerak cepat pemerintah

Pemerintah Indonesia menunjuk INPEX sebagai operator Proyek Lapangan Abadi Wilayah Kerja Masela sejak November 1998, yang telah mendapatkan perpanjangan kontrak kerja hingga November 2055. Proyek tersebut telah tertunda selama 26 tahun, hampir tiga dekade lamanya.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah mengambil terobosan dalam mempercepat proyek Masela. Ia mengirimkan surat teguran pertama kepada INPEX pada awal 2025, sekaligus peringatan untuk mengambil kembali wilayah kerja apabila tidak ada perkembangan. Hal itu menandakan keseriusan pemerintah kepada operator Blok Masela agar pelaksanaan proyek lapangan abadi tidak tertunda lagi.

Surat Menteri ESDM tersebut telah mendorong INPEX bergerak lebih cepat dari biasanya. Mereka akhirnya meresmikan kegiatan Front-End Engineering and Design (FEED) dengan pengerjaan empat paket utama, yaitu Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines (SURF), Gas Export Pipeline (GEP), Floating Production Storage and Offloading (FPSO), dan Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG), pada Agustus 2025.

Menteri ESDM juga bertemu langsung dengan CEO INPEX Takayuki Ueda di Tokyo, Jepang, sebagai rangkaian dari kunjungan kenegaraan pada Maret 2026. Ia menyampaikan sikap Pemerintah Indonesia yang memiliki komitmen kuat dalam mendorong percepatan proyek Masela dan meminta keputusan investasi final atau final investment decision (FID) segera ditetapkan.

Kepemimpinan Menteri ESDM selama dua tahun terakhir berhasil menggerakkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) sebagai salah satu aktor penting di balik kemajuan proyek Masela. Perkembangan tersebut merupakan bukti kerja keras pemerintah dalam menjemput bola secara proaktif dan terlibat langsung bersama pelaku usaha dalam menyelesaikan berbagai hambatan yang timbul selama persiapan proyek.

Kemajuan yang menjanjikan

SKK Migas bersama INPEX dan mitra joint venture telah memperoleh kesepakatan atas aspek legal, keuangan, dan komersial terkait LNG development agreement (LDA) proyek Masela pada 28 April 2026. Head of agreement (HoA) atau gas sales agreement (GSA) telah diteken pada acara Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 dengan melibatkan tiga BUMN besar konsumen gas, yaitu PT PLN (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), serta PT Pertamina Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN.

SKK Migas juga telah menyetujui beberapa hasil tender, termasuk pekerjaan awal kontruksi fisik perimeter, pekerjaan jalan, dan pembersihan lahan. Persetujuan tersebut termasuk rencana tender meliputi Subsea, Umbilical, Riser & Flowline (SURF), Gas Export Pipeline (GEP), Floating Production Storage and Offloading (FPSO), dan Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG).

Menteri ESDM dan Kepala SKK Migas juga telah menandatangani sanctity of contract proyek PSN Masela pada 10 Juli 2026. Rangkaian peristiwa yang terjadi dua tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang sudah lama dinantikan. Proyek Lapangan Abadi Masela yang telah direncanakan sejak hampir tiga dekade silam akan segera menunjukkan jati dirinya sebagai raksasa gas di Nusantara.

Proyek gas Blok Masela diyakini memiliki berbagai nilai strategis. Pertama, sebagian besar kebutuhan gas nasional yang selama ini dipasok dari negara lain akan dipenuhi sendiri dari dalam negeri. Kedua, lokasi pembangunan fasilitas pabrik pengolahan LNG di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, menunjukkan komitmen pemerintah dalam melakukan pemerataan pembangunan sehingga tidak hanya terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia.

Ketiga, menghadirkan efek pengganda atau multiplier effects berupa percepatan pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja berjumlah besar, dan melipatgandakan kegiatan ekonomi lokal selama tahap konstruksi hingga operasi.

Nilai strategis proyek gas Blok Masela selaras dengan mandat konstitusi untuk mewujudkan keadilan sosial. Hal itu juga sejalan dengan agenda pemerintah yang mengutamakan peningkatan pertumbuhan ekonomi secara signifikan, menyebar manfaat pembangunan lebih merata, mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan, termasuk menciptakan keadilan antarwilayah yang masih menyisakan kesenjangan cukup lebar.

Langkah-langkah pemerintah dalam memfasilitasi percepatan implementasi proyek gas Masela menunjukkan keseriusan dalam menunaikan tugas konstitusional untuk memenuhi akses dan pasokan energi kepada warga negara secara pasti, cepat, mudah, dan murah.

Keyakinan dan kemampuan suatu negara untuk mengusahakan kemandirian energi merupakan bagian dari jati diri bangsa yang merdeka. Presiden Sukarno pernah berpesan, bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.

Asa swasembada energi tidak akan pernah dibiarkan berakhir sebagai mimpi, tetapi akan terus diusahakan menjadi nyala api harapan yang berkelanjutan untuk dinikmati generasi masa depan.

Presiden Prabowo dijadwalkan akan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek gas Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada 16 Juli 2026. Peristiwa tersebut akan menjadi tonggak sejarah transformasi Blok Masela sebagai raksasa gas Nusantara. Indonesia terang!

Djoko Siswanto Kepala SKK Migas