Salah satu alasan KAI meluncurkan KA Nusantara Explorer adalah menyasar wisatawan mancanegara yang jumlahnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
JAKARTA, KOMPAS — PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang fokus menggarap kereta premium atau kelas eksklusif yang menyasar wisatawan mancanegara. Layanan bagi segmen kelas atas itu didasari oleh meningkatnya jumlah pelanggan selama beberapa tahun ke belakang.
Belakangan ini, PT KAI terus berinovasi dan mengembangkan sarana perkeretaapian di Pulau Jawa. Terakhir, BUMN ini baru saja memperkenalkan kereta mewah terbarunya, Nusantara Explorer Luxury Sleeper Train, atau dikenal dengan KA Nusantara Explorer.
Armada tersebut dikembangkan sebagai kereta kabin tidur mewah yang memadukan ragam pengalaman, dari ruang istirahat privat, pelayanan personal, kuliner, hiburan, hingga pengalaman menikmati lanskap alam.
Salah satu alasan KAI meluncurkan KA Nusantara Explorer adalah menyasar wisatawan mancanegara. Hal ini seiring dengan kenaikan jumlah penumpang dari waktu ke waktu. Tahun lalu, misalnya, lebih dari 600.000 pelanggan KAI merupakan WNA.
”Kalau KAI mengeluarkan produk, itu berarti sudah dikaji, baik dari sisi potensinya sampai risikonya. Kami melihat potensi pengembangan wisata itu sangat luar biasa. Dari tahun ke tahun, WNA yang menggunakan kereta naik (jumlahnya),” tutur Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba saat dihubungi di Jakarta, Senin (27/7/2026).
KAI melihat berbagai segmen pelanggan semakin bertumbuh, mulai dari KA khusus petani dan pedagang sampai Nusantara Explorer untuk penumpang dari kelas menengah-atas serta WNA. Tiap KA punya potensi masing-masing yang dikembangkan oleh KAI sebagai operator.
”Dari sisi komersialisasi dan pemasarannya pun bisa berbeda dan melibatkan berbagai pihak. Kami sedang bersiap untuk penjualannya. Tunggu tanggal mainnya,” kata Anne.
Sampai saat ini KAI masih mengunggulkan sejumlah KA kelas eksklusifnya. Beberapa di antaranya adalah kelas KA Prioritas, Imperial, Luxury, Luxury Sleeper, Panoramic, dan Compartment Suite.
Berdasarkan data KAI per semester I-2026, kereta Compartment Suite melayani 26.123 pelanggan, naik 64,76 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tren serupa dialami KA Wisata, dengan jumlah pelanggan meningkat 64,45 persen dan melayani 164.743 pelanggan pada semester I-2026.
Dari segi pergerakan wisatawan mancanegara (wisman), mobilitasnya tumbuh 2,54 persen pada semester I-2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. KAI mencatat ada 308.874 wisman yang menggunakan KA jarak jauh pada Januari-Juni 2026.
Sekitar sepertiga wisman memulai perjalanannya dari stasiun regional. Secara persentase, kenaikan tertinggi justru disumbang oleh Divisi Regional IV Tanjung Karang, Bandar Lampung, yakni sebesar 12,76 persen, lalu disusul Daerah Operasi IV Semarang sebesar 12,38 persen.
Tren ini juga mulai terlihat sejak 2022 hingga 2025 seiring dengan tumbuhnya pergerakan wisman sebagai pengguna KA. Sebagai gambaran, dalam rentang 2022-2025, volume wisman yang menggunakan KA jarak jauh telah naik 130,83 persen.
Stasiun utama masih menjadi gerbang dominan. Sebaliknya, kenaikan angka keberangkatan wisman memberi sinyal awal mengenai munculnya pilihan perjalanan yang lebih beragam.
Tak hanya Jawa
Pulau Jawa memang dinilai berpotensi tinggi untuk menjalankan bisnis KAI sehingga menjadi tumpuan utama operasional perkeretaapian Indonesia. Namun, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengingatkan, pulau lain memiliki potensi yang tidak kalah besar.
”Pandangan saya karena di Jawa (memiliki) jumlah penduduk, mobilitas masyarakat, tingkat pendapatan, dan gaya hidup lebih tinggi dibandingkan pulau lain. Banyak kota besar yang letaknya berdekatan, jadi Jawa cenderung padat dan rapat, potensi pasarnya besar,” tutur Sekretaris MTI Adiya Dwi Laksana.
Menurut dia, ini berbeda dengan pulau lainnya, seperti Sumatera. Persebaran kota dan penduduk di kawasan tersebut begitu luas, sementara jumlah penduduknya tidak semasif di Jawa. Jaringan KA-nya juga terbatas sehingga angkutan barang atau komoditas jauh lebih potensial di sana ketimbang angkutan penumpang.
Meski demikian, semestinya KAI dapat kembali mengoptimalkan rute-rute yang nonaktif, seperti KA Limex Sriwijaya rute Kertapati (Palembang)-Tanjungkarang (Lampung) untuk perjalanan malam. Ada pula transportasi perkotaan yang disebut KA Kertalaya dengan rute Kertapati-Indralaya, tepatnya di Universitas Sriwijaya (Unsri), Indralaya, Sumatera Selatan.
Di Sumatera Barat, ada KA Wisata Lembah Anai dan KA Wisata Danau Singkarak yang semestinya bisa beroperasi kembali. KA Wisata Lembah Anai merupakan layanan perintis KAI yang beroperasi dengan rute Padang-Kayu Tanam (pergi-pulang) yang melewati area cagar alam serta air terjun. Sementara KA Wisata Danau Singkarak melintas di pinggir Danau Singkarak yang menghubungkan Solok, Batu Tabal, dan Sawahlunto.
Guna mengoptimalkan kedua KA wisata itu secara reguler, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan perlu cepat merevitalisasi prasarana di kawasan tersebut yang selama ini sudah tidak aktif selama belasan tahun.
”Sejatinya memang Sumatera saat ini lebih potensial untuk angkutan komoditas,” ucap Aditya.
Meski saat ini KA telah beroperasi di Sulawesi, pengembangannya masih terbatas. KA di kawasan tersebut baru berjalan pada satu ruas rel, sedangkan KAI hanya merupakan bagian dari operator sehingga pengembangan bisnisnya pun terbatas.