Dari 4,45 juta kematian di Indonesia pada 2025, sebanyak 85,19 persen di antaranya dipicu oleh berbagai penyakit tidak menular. Jumlah itu jauh lebih besar dari rata-rata kematian akibat penyakit tidak menular global. Ironisnya, situasi itu terjadi di sekitar puncak masa bonus demografi saat hampir 70 persen penduduk Indonesia berada di usia produktif.

Penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, hipertensi, diabetes, kanker, ginjal, hingga paru obstruktif kronis adalah penyakit yang berkembang secara perlahan dan tidak dapat ditularkan antarindividu. Umumnya, penyakit ini muncul sebagai bagian dari proses penuaan. Namun, perubahan gaya hidup membuat penyakit ini datang pada usia yang lebih muda.

Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2025 menunjukkan angka kematian kasar (CDR) di Indonesia mencapai 6,45 kematian per 1.000 penduduk. Artinya, dalam setahun, ada 6-7 kematian di setiap 1.000 penduduk. Dibandingkan lima tahun sebelumnya, sesuai hasil Sensus Penduduk 2020, angka CDR hanya 4,74 per 1.000 penduduk.

Peningkatan jumlah kematian itu diperkirakan terkait dengan pergeseran struktur penduduk Indonesia yang saat ini memasuki fase masyarakat menua (ageing society). Analisis itu didasarkan kondisi terus menurunnya angka kematian ibu dan anak serta provinsi-provinsi dengan persentase penduduk lanjut usia (lansia) tinggi juga memiliki angka kematian yang tinggi.

Provinsi dengan angka kematian terbesar adalah DI Yogyakarta (DIY) sebanyak 9,22 kematian per 1.000 penduduk, Jawa Timur (Jatim) 7,88 kematian dan Bali 7,87 kematian. Risiko kematian memang meningkat seiring bertambahnya usia.

Ketiga provinsi tersebut juga memiliki persentase penduduk lansia berumur lebih dari 60 tahun terbanyak di Indonesia, masing-masing sebesar 17,83 persen di DIY, Jatim 15,45 persen, dan Bali 15,07 persen. Jumlah warga lansia di ketiga provinsi itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah lansia nasional sebesar 11,97 persen.

Anak-anak bermain gim daring melalui gawainya di kawasan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Senin (13/7/2026). Penggunaan gawai oleh anak-anak memerlukan pengawasan, panduan dan pembatasan dari orangtua untuk mencegah dampak negatif dari paparan media sosial dan gim daring.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
13-07-2026

Angka mortalitas tidak hanya menunjukkan jumlah kematian penduduk, tetapi juga memperlihatkan kondisi kesehatan masyarakat, kualitas hidup, hingga kesejahteraan mereka. Dari 4,54 juta kematian yang terjadi di Indonesia pada 2025, sebanyak 85,19 persen diakibatkan oleh penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, hipertensi, kanker, diabetes, ginjal, hingga paru obstruktif kronis.

Kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia itu jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2025 menyebut kematian akibat penyakit tidak menular pada 2021 mencapai 43 juta orang dan 75 persennya disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Di dunia, rata-rata usia harapan hidup global mencapai 71,3 tahun dan usia harapan hidup sehat 63,5 tahun. Sementara di Indonesia, sesuai data WHO, rata-rata usia harapan hidupnya baru 68,3 tahun dan usia harapan hidup sehatnya 60,7 tahun. Meski rentang usia yang dilalui dengan berbagai penyakit dan disabilitas hampir sama, usia orang Indonesia yang lebih pendek membuat mereka harus menanggung usia dengan penyakit yang lebih panjang dibandingkan rata-rata global.

Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik M Nashrul Wajdi dalam Seminar Nasional dan Diseminasi Hasil Supas 2025 di Jakarta, Sabtu (1/8/2026), mengatakan, tingginya kematian akibat penyakit tidak menular itu mulai meningkat sejak usia 35 tahun. Gaya hidup disebut sebagai pemicu utama munculnya berbagai penyakit tidak menular tersebut.

Mengingat penyakit tidak menular adalah penyakit kronis, bisa dipastikan bahwa berbagai gejala penyakit tersebut sudah muncul beberapa tahun sebelumnya. Kondisi ini tentu memprihatinkan karena berbagai gejala penyakit tidak menular itu muncul pada usia produktif, rentang usia saat penduduk diharapkan bisa menopang pembangunan ekonomi demi cita-cita Indonesia melompat menjadi negara kaya.

Nyatanya, di usia yang relatif muda itu mereka justru sakit-sakitan sehingga produktivitas rendah, tidak bisa bekerja, tidak berpenghasilan, membutuhkan biaya perawatan tinggi, serta menambah beban ekonomi dan sosial keluarga. Kalaupun mereka mampu bertahan hingga lansia, hampir dipastikan masa tua mereka kurang berkualitas. ”Ini adalah pintu masuk menuju bencana,” tambah Nashrul.

Pasien hemodialisa sedang mendapatkan layanan cuci darah di RSUD Aceh Tamiang, Aceh, Senin (12/1/2025). Setidaknya ada 40 pasien cuci darah yang terdata harus mendapatkan pelayanan rutin di rumah sakit tersebut.

Salah satu syarat tercapainya bonus demografi adalah besarnya jumlah penduduk produktif yang benar-benar produktif. Syarat utama agar mereka bisa produktif adalah sehat fisik dan mental. Namun jika mereka justru tidak menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi dan membebani ekonomi negara, kekhawatiran terjadinya bencana demografi kian nyata.

Tak berdampak ke perilaku

Munculnya gejala penyakit tak menular pada orang usia muda, dan kematian yang ditimbulkannya, ini terjadi bukan karena masyarakat tidak tahu atau tidak terliterasi dengan berbagai tanda, penyebab, hingga penanganan penyakit tidak menular. Terlebih, orang muda saat ini memiliki akses informasi kesehatan yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade lalu seiring berkembangan internet dan media sosial.

Masalahnya, pengetahuan tentang kesehatan yang mereka miliki tidak serta-merta bisa dikembangkan menjadi gaya hidup sehat. Rasionalitas mereka tidak otomatis bisa melahirkan budaya hidup sehat.

Berbagai fakta, hasil riset, artikel kesehatan populer, hingga jurnal ilmiah telah banyak membahas pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah atau menunda munculnya penyakit tidak menular. Banyak bergerak, makan makanan sehat, batasi konsumsi gula, garam, dan lemak, banyak makan sayur dan buah, tidur malam yang cukup, hingga pengelolaan stres yang baik.

Profesor Intervensi Perilaku Kesehatan Masyarakat dari Universitas Leiden Belanda Marieke Adriaanse di situs Universitas Leiden, 25 Oktober 2021, menuliskan menjalani gaya hidup sehat memang tidak semudah yang diinginkan atau dicita-citakan. Ini adalah kondisi yang umum terjadi dalam berbagai kelompok masyarakat dan budaya.

Manusia memang ”homo rasionalis”. Namun, sebutan itu hanya berlaku dalam batas tertentu karena berpikir rasional itu berat dan melelahkan. Pada saat bersamaan, dorongan untuk hidup enak dan nyaman akan selalu muncul dalam otak hingga sering kali kemauan untuk hidup sehat itu tidak terlalu kuat dan menjebak manusia untuk tetap dalam lingkatan perilaku yang tidak sehat.

Sejumlah siswa bermain lompat tali saat berlangsung Hari Kelas Luar Ruang (Outdoor Class Day) di SMAN 7 Karet Tengsin, Jakarta, Kamis (1/11/2018). Kegiatan pembelajaran di luar kelas ini bertujuan membentuk anak sadar akan lingkungan. Kegiatan ini juga membuat siswa bergerak aktif dan memberikan lebih banyak peluang untuk berpikir secara independen. Selain itu, anak-anak merasa tertantang dan antusias untuk belajar.

”Sebagian besar pilihan kita tidak dibuat melalui kemauan yang keras, tetapi bersifat otomatis,” kata Adriaanse.

Pola kognitif inilah sejatinya banyak membentuk rutinitas atau kebiasaan kita. Manusia secara tidak sadar ”dipaksa” oleh keadaan untuk melakukan sesuatu, termasuk perilaku sehat meski otak kita sebenarnya tidak menginginkannya.

Masyarakat di banyak negara maju dipaksa berjalan kaki dari rumah atau kantor ke stasiun atau halte bus terdekat karena di sana tidak ada ojek motor yang bisa mengantarkan mereka dari depan pagar rumah hingga gerbang gedung atau sekolah. Mereka umumnya juga dipaksa memasak makanan sendiri hingga kandungan gizi dan kebersihannya bisa dikontrol karena harga makanan jadi sangat mahal. Namun, pemerintah memfasilitasi kebijakan itu dengan membangun trotoar yang aman dan harga bahan makanan terjangkau sesuai pendapatan masyarakat.

Sayangnya, orang dengan status sosial ekonomi rendah dan stres kronis akan lebih sulit mengadopsi gaya hidup sehat. Hidup enak dan nyaman seolah menjadi kompensasi atas berbagai kesusahan yang mereka alami selama ini. Dari sinilah kebiasaan jalan kaki dan banyak makan sayur dipandang sebagai hal yang menyedihkan, simbol kesusahan dan kemiskinan, karena tidak mampu membeli sepeda motor atau makan daging.

Kondisi itu pula yang banyak membuat penerima akses kesehatan gratis di Indonesia melalui skema penerima bantuan iuran dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak memanfaatkan fasilitas tersebut dengan optimal. Program cek kesehatan gratis untuk mendeteksi lebih awal dan mencegah penyakit tidak menular pun belum sepenuhnya oleh semua peserta JKN.

Karena intervensi tingkat kesehatan individu sulit dilakukan, Adriaanse mengingatkan pentingnya intervensi lingkungan untuk menciptakan gaya hidup sehat. Pemerintah tidak bisa hanya meminta masyarakat memiliki gaya hidup sehat tanpa menyiapkan lingkungan yang mendukung mereka untuk benar-benar bisa hidup sehat. Intervensi itu secara tidak disadari akan ”memaksa” masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.

Dengan demikian, imbauan dan larangan untuk tidak merokok demi mencegah berbagai penyakit tidak menular tidak akan pernah memberi hasil yang efektif sepanjang pemerintah tidak membuat rokok sebagai komoditas yang sulit diakses masyarakat. Imbauan untuk mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak tidak akan pernah berhasil sepanjang berbagai produk itu bisa dijangkau masyarakat tanpa hambatan.

Warga saat berlangsung Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (5/7/2026). Warga memanfaatkan berlangsungnya HBKB untuk beragam keperluan, dari olahraga, bersantai hingga berjualan.
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Mewujudkan masyarakat yang sehat itu sulit jika hanya didasarkan pada kesadaran masyarakat. Sebaliknya, menuntut masyarakat hidup sehat itu juga tidak adil jika pemerintah malah menciptakan kebijakan dan lingkungan yang mendorong masyarakat hidup tidak sehat.

Intervensi pemerintah untuk menjadikan masyarakat sehat tidak akan pernah memberi dampak efektif selama kebijakan pemerintah ambigu. Persoalan kesehatan masyarakat bukan hanya urusan sektor kesehatan. Karena itu, semua bidang harus ikut andil dalam menjaga kesehatan masyarakat dan menjalankannya secara konsisten.