Pertumbuhan 5,29 persen dipicu belanja pemerintah, bukan lompatan produktivitas swasta. Saatnya benahi kualitas pertumbuhan sebelum krisis memaksa kita berubah.

Oleh Joy Elly Tulung

Di dunia komik Marvel, Spider-Man: Brand New Day bukan sekadar babak baru dalam kehidupan Peter Parker. Setelah berbagai peristiwa besar mengubah hidupnya, ia tetap memiliki kemampuan yang sama, semangat yang sama, bahkan tanggung jawab yang sama. Namun, dunia di sekelilingnya telah berubah. Cara lama tidak lagi selalu efektif. Musuh yang dihadapi berbeda, tantangannya berbeda, dan strategi yang pernah berhasil tidak otomatis menjadi jawaban untuk masa depan.

Dalam ilmu ekonomi pembangunan terdapat konsep yang disebut path dependency, yaitu kecenderungan suatu negara untuk mengandalkan resep yang pernah berhasil pada masa lalu dalam menghadapi tantangan baru. Strategi itu sering kali efektif selama lingkungan tidak banyak berubah. Namun, ketika struktur ekonomi dunia bergeser, teknologi berkembang sangat cepat, dan pola perdagangan internasional berubah, keberhasilan masa lalu justru dapat menjadi jebakan jika tidak diikuti oleh kemampuan beradaptasi. Ekonomi Indonesia tampaknya sedang berada di persimpangan seperti itu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen, sedangkan selama semester I-2026 pertumbuhan mencapai 5,45 persen. Nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.552,1 triliun, menunjukkan aktivitas ekonomi nasional yang tetap kuat meski dunia masih dibayangi ketidakpastian.

Secara khusus, angka-angka tersebut patut diapresiasi. Indonesia kembali menunjukkan daya tahan yang relatif baik di tengah perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik yang belum mereda, suku bunga tinggi di negara-negara maju, serta perubahan dalam struktur perdagangan internasional. Banyak negara berkembang malah mengalami penurunan yang lebih dalam. Tidak mudah mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen dalam konteks ini.

Infografik Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pulau
Ismawadi

Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pulau

Namun, dalam ekonomi, angka sering kali hanya menjawab pertanyaan ”berapa cepat kita tumbuh”, bukan ”seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut”. Dan, justru pertanyaan kedua itulah yang akan menentukan apakah Indonesia mampu menjadi negara maju atau hanya terus nyaman berada pada level negara berpendapatan menengah.

Sering kali kita memperlakukan angka pertumbuhan ekonomi seperti melihat nilai akhir seorang mahasiswa. Ketika IPK tinggi, kita menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal, dosen yang baik tidak berhenti pada angka IPK. Ia akan bertanya lebih jauh. Mata kuliah apa yang menjadi kekuatan mahasiswa tersebut? Apakah peningkatan nilainya berasal dari penguasaan materi yang lebih baik atau hanya karena memilih mata kuliah yang lebih mudah? Apakah kemampuan berpikirnya berkembang atau sekadar pandai mengerjakan ujian?

Hal yang sama berlaku untuk pertumbuhan ekonomi. Angka 5,29 persen hanyalah nilai akhirnya. Yang jauh lebih penting adalah memahami apa yang membentuk angka tersebut. Data BPS menunjukkan bahwa dari sisi produksi, pertumbuhan tahunan tertinggi berasal dari sektor pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 10,81 persen.

Selama semester pertama, sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,83 persen, mencerminkan pemulihan mobilitas masyarakat dan pariwisata yang berlanjut. Sementara secara kuartalan, sektor pertanian mengalami lonjakan lebih dari 12 persen akibat faktor musiman panen raya.

Konsumsi pemerintah tumbuh paling cepat, mencapai 15,97 persen secara tahunan dan 18,62 persen selama semester pertama. Data sebenarnya menceritakan dua kisah sekaligus. Berita baik dimulai dengan cerita pertama. Pemerintah menjalankan fungsi stabilisasi ekonomi dengan baik, konsumsi domestik tetap tinggi, dan sektor jasa bangkit lagi. Ini menunjukkan bahwa permintaan domestik Indonesia masih memiliki dasar yang kokoh.

Cerita kedua, bagaimanapun, jauh lebih menarik. Pertanyaan tentang keberlanjutan sumber pertumbuhan muncul ketika konsumsi pemerintah menjadi komponen yang tumbuh paling cepat. Sampai kapan anggaran pemerintah dapat menggerakkan ekonomi?

Dalam teori Keynesian, belanja pemerintah memang diperlukan ketika sektor swasta masih berhati-hati. Ia berfungsi sebagai bantalan agar roda ekonomi tidak kehilangan momentum. Namun, sejarah pembangunan sejumlah negara menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, negara tidak pernah menjadi kaya hanya karena pemerintahnya terus membelanjakan uang. Negara menjadi maju karena sektor swastanya semakin produktif.

Di sinilah diskusi mengenai kualitas pertumbuhan menjadi penting. Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya dapat berasal dari tiga sumber. Pertama, bertambahnya jumlah tenaga kerja. Kedua, meningkatnya investasi atau akumulasi modal. Ketiga, meningkatnya produktivitas, yakni kemampuan menghasilkan output yang lebih besar dengan jumlah tenaga kerja dan modal yang tetap. Komponen ketiga inilah yang dalam ekonomi dikenal sebagai total factor productivity (TFP).

Mengapa TFP penting?

Hampir semua negara maju berkembang dalam jangka panjang karena peningkatan produktivitas yang berkelanjutan, bukan karena investasi atau jumlah pekerja yang meningkat. Sumber daya alam Jepang pascaperang sangat terbatas. Korea Selatan juga memulai pembangunan dalam kondisi yang agak buruk. Singapura hampir tidak memiliki sumber daya alam apa pun.

Namun, ketiganya memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas melalui pendidikan yang baik, inovasi, penelitian, tata kelola yang baik, serta kemampuan mengadopsi teknologi. Dengan kata lain, mereka tidak hanya bekerja lebih banyak, tetapi juga bekerja lebih cerdik.

Sekarang, Indonesia menghadapi masalah yang sama. Bonus demografi tidak akan hilang. Pada suatu saat, pertumbuhan penduduk usia produktif akan melambat. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi di masa depan tidak dapat lagi bergantung pada pembangunan fisik atau jumlah pekerja. Yang perlu ditingkatkan adalah produktivitas setiap pekerja, setiap perusahaan, dan setiap investasi.

Dunia secara keseluruhan berkembang lebih cepat daripada sebelumnya. Lanskap ekonomi baru sedang dibentuk oleh AI, otomatisasi industri, komputasi awan, ekonomi digital, transisi ke energi hijau, dan fragmentasi rantai pasokan global. Selain itu, persaingan antarnegara juga berubah. Investor tidak lagi mencari negara yang murah. Mereka sekarang mencari negara yang memiliki tenaga kerja terampil, kepastian hukum, infrastruktur digital, keamanan rantai pasokan, dan kemampuan berinovasi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetisi bukan hanya tentang siapa yang memiliki sumber daya alam paling banyak, melainkan juga tentang siapa yang dapat menghasilkan nilai tambah paling besar.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki modal yang sangat besar. Hilirisasi mineral mulai menarik investasi manufaktur baru. Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap PDB. Sektor pertanian semakin ditopang teknologi. Pariwisata menunjukkan pemulihan yang kuat. Ekonomi digital tumbuh menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Meskipun demikian, modal hanyalah titik awal. Modal ini tidak akan menghasilkan peningkatan produktivitas yang diperlukan jika tidak ada reformasi birokrasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kepastian investasi.

Pengalaman di Vietnam memberi kita pelajaran yang menarik untuk dipelajari. Melalui reformasi investasi, pembangunan kawasan industri, dan peningkatan kualitas tenaga kerja, Vietnam telah berhasil mengintegrasikan bisnisnya ke dalam rantai pasok global dalam 20 tahun terakhir. Negara tersebut menarik investasi asing dan memastikan bahwa investasi tersebut menghasilkan transfer teknologi.

Korea Selatan bahkan melangkah lebih jauh. Pemerintah tidak hanya membangun jalan raya dan pelabuhan, tetapi juga membangun universitas, pusat penelitian, industri semikonduktor, dan perusahaan teknologi yang pada akhirnya akan menjadi perusahaan terkemuka di dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik tidaklah sulit. Memang, pertumbuhan yang tinggi sangat penting. Namun, transformasi di bidang ekonomi jauh lebih signifikan. Dengan hilirisasi, digitalisasi layanan publik, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan ekonomi hijau, Indonesia telah memulai langkah menuju arah tersebut. Percepatan transformasi ini agar tidak berhenti pada pembangunan fisik, melainkan meningkatkan produktivitas bangsa.

Pemerataan pertumbuhan juga harus diperhatikan. Dengan kontribusi 56,47 persen terhadap PDB dan pertumbuhan sebesar 5,65 persen, Pulau Jawa tetap menjadi pusat ekonomi nasional, sementara Sulawesi tumbuh 5,53 persen, dan Bali-Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan regional tertinggi sebesar 6,10 persen. Menurut angka-angka ini, pusat pertumbuhan baru mulai muncul.

Itu adalah indikasi positif. Namun, tugas berikutnya adalah memastikan bahwa wilayah di luar Jawa bukan hanya menjadi sumber bahan baku, melainkan juga menjadi pusat industri, inovasi, dan pengolahan.

Misalnya, Sulawesi memiliki peluang besar untuk hilirisasi nikel, pengolahan hasil perikanan, industri baterai kendaraan listrik, ekonomi maritim, serta pariwisata berkelanjutan. Papua dan Maluku memiliki potensi kelautan yang luar biasa. Energi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara mendorong pertumbuhan Kalimantan. Bali dan Nusa Tenggara memiliki potensi untuk menjadi laboratorium pariwisata dan ekonomi yang ramah lingkungan. Ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat dalam menghadapi guncangan global karena semakin banyak pusat pertumbuhan yang berkembang.

Karena itu, pertumbuhan 5,29 persen patut dihargai, tetapi tidak boleh membuat kita berpuas diri. Reformasi harus dilakukan dengan cepat saat ekonomi sedang berkembang. Sejarah menunjukkan bahwa transformasi yang signifikan paling efektif terjadi dalam situasi ekonomi yang relatif stabil. Biaya reformasi biasanya meningkat jika reformasi ditunda hingga terjadi krisis.

Peningkatan kualitas pendidikan, penguatan riset, digitalisasi UMKM, reformasi birokrasi, kepastian hukum, efisiensi logistik, pendalaman sektor keuangan, hingga pengembangan teknologi kecerdasan buatan bukanlah agenda yang dapat ditunda.

Karena pada akhirnya, daya saing suatu negara tidak ditentukan oleh seberapa besar PDB-nya hari ini, tetapi oleh kemampuan menciptakan produktivitas yang lebih tinggi di masa depan.

Kisah Spider-Man: Brand New Day mendapatkan maknanya di sini. Peter Parker akhirnya menyadari bahwa Green Goblin, Venom, atau Doctor Octopus bukanlah musuh terbesarnya. Dia percaya bahwa metode lama selalu cukup untuk menghadapi dunia baru. Indonesia juga menghadapi masalah yang sama.

Kita telah berhasil mempertahankan stabilitas ekonomi selama lebih dari 20 tahun. Inflasi relatif stabil. Sistem keuangan menjadi lebih kuat. Pertumbuhan masih 5 persen. Ini adalah dasar yang sangat berharga. Namun, fondasi bukanlah struktur. Ekonomi berbasis pengetahuan, AI, energi bersih, dan produktivitas tinggi merupakan tren global. Strategi yang berhasil saat ini tidak cukup untuk membawa Indonesia menuju 2045.

Oleh karena itu, pertumbuhan 5,29 persen seharusnya dianggap sebagai awal yang baru, bukan sebagai garis akhir. Sebuah era baru dimulai ketika produktivitas meningkat lebih cepat daripada konsumsi, inovasi melebihi eksploitasi sumber daya alam, investasi menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, dan pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di beberapa daerah, tetapi juga menjadi milik seluruh Indonesia.

Sebab, seperti yang Peter Parker akhirnya sadari, menjadi pahlawan berarti terus belajar menghadapi dunia yang berubah, demikian pula sebuah bangsa. Kehebatan sebuah negara tidak diukur dari kemampuannya mempertahankan standar lama, tetapi dari keberaniannya mengubah strategi sebelum perubahan itu dipaksa.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari pertumbuhan ekonomi 5,29 persen: itu bukan hanya bukti bahwa Indonesia masih mampu bertahan, melainkan juga kesempatan untuk memulai fase baru menuju ekonomi yang lebih inovatif, produktif, inklusif, dan siap menghadapi masa depan.

Joy Elly Tulung, Guru Besar FEB UNSRAT dan Ketua ISEI Cabang Manado