Kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah di Indonesia masih terjadi. Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah berkomitmen menghadirkan pendidikan bermutu bagi semua anak dengan menerapkan strategi kebijakan diversifikasi layanan pendidikan.
Adapun diversifikasi layanan pendidikan yang terbaru yakni pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT yang dikelola Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sementara bagi anak-anak putus sekolah, pemerintah menerapkan layanan pendidikan yang fleksibel antara lain melalui pembelajaran jarak jauh atau PJJ.
Sayangnya penjaringan siswa baru yang bersekolah di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT di berbagai daerah dilakukan seusai tahun ajaran baru 2026/2027 pertengahan Juli 2026. Meski demikian, ribuan siswa baru jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan keunggulan akademik dan nonakademik berhasil terpilih.
Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, dalam keterangan pers, SNT merupakan bagian program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto. Program ini bertujuan memberi layanan pendidikan unggul bagi anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa, di bidang akademik maupun olahraga, seni, dan bidang lain.
Penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi untuk jenjang SMP dan SMA demi mempercepat pemerataan mutu pendidikan di daerah-daerah. Pembelajaran di SNT yang baru beroperasi tahun ini masih dilaksanakan di lokasi transit.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/08/e63ff341-d372-489a-8e2b-a50cd1008f59_jpg.jpg)
Sekolah-sekolah baru itu dibangun di lahan seluas 10-20 hektar dengan sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran berfokus pada STEAMS (Sains, Teknologi, Engineering/Teknik, Arts/Seni, Matematika, dan Sports/Olahraga). Pembangunan sekolah itu berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan kini dalam tahap penyelesaian.
Kehadiran SNT sebagai sekolah unggulan non-asrama menjangkau siswa-siswa berprestasi di daerah dalam bidang akademik, seni, olahraga, dan prestasi lainnya. Sekolah ini diperuntukkan bagi siswa dari daerah di lokasi sekolah (kabupaten) tanpa dipungut biaya. Pendidikan dilaksanakan secara terintegrasi dari jenjang SMP dan SMA.
Anggota Dewan Pendidikan Nasional Darmaningtyas menilai, sah-sah saja jika pemerintahan saat ini hendak membuat legacy soal sekolah-sekolah unggulan. “Tapi jangan sampai menimbulkan persoalan di masa mendatang,” ujarnya.
Pembukaan SNT harus sesuai janji pemerintah dengan difokuskan di luar Jawa untuk mengejar ketertinggalan mutu pendidikan. Sebab, hanya empat persen dari jumlah total kecamatan di Indonesia memiliki sekolah bagus. Kalau untuk meningkatkan mutu pendidikan, seharusnya fokusnya di luar Jawa,” kata Darmaningtyas.
Mulai beroperasi
Kini sejumlah sekolah nasional terintegrasi mulai beroperasi. Sebagai contoh, di SNT 6 Bone Bolango, puluhan siswa menjalani pendidikan di lokasi transit di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango. Sebagian siswa tiba di sekolah memakai bus yang menjemput dari titik kumpul di Bone Bolango dan Kota Gorontalo.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/08/31/baf8d095379578a51fd9296312eb9cc3-SNT_Gorontalo.jpeg)
Nurfadhilah Ramadhani Djamal, siswa SNT 6 Bone Bolango, merasakan suasana belajar yang nyaman. Dia ikut seleksi dengan bekal beberapa kali menjuarai lomba olahraga atletik tingkat kabupaten dan provinsi.
Sementara Muhammad Rheza Dama, siswa kelas VII SNT, ingin mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris dan catur. “I want increase myself to get the better version (saya ingin meningkatkan diri untuk mencapai versi terbaik),” tuturnya, saat ditanya alasan mendaftar di SNT Bone Bango, dalam siaran pers Kemendikdasmen, Jumat (21/8/2026)
Rheza mengaku tertarik belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 sekolah dasar (SD) melalui gim dan video. Ia juga gemar bermain catur dan bercita-cita menjadi grandmaster. “Bersekolah di SNT sebagai sarana untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggris bersama guru dan teman-teman,” katanya.
Menurut Kepala SNT 6 Bone Bolango, Surahmat Hasjim, sekolah memastikan kebutuhan murid terpenuhi, dari pembelajaran, fasilitas, konsumsi makanan bergizi, hingga layanan antar jemput. “Kami ingin memastikan anak-anak terpenuhi kebutuhan belajarnya dari segi fasilitasnya, pembelajaran, dan kesejahteraannya atau well being,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/14/6f90fe0e-9545-48cf-996d-4f08c4efc25b_jpg.jpg)
Dua bis sekolah yang disediakan melayani perjalanan murid mulai dari titik kumpul yang telah dipetakan berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka. Selain itu, tahun ini, setiap murid rencananya memperoleh satu komputer jinjing atau laptop pada September 2026.
Keragaman potensi siswa
Di Jawa Barat, siswa kelas X SNT 7 Bogor yang berlokasi di Parung, Nadine A Zuhrah Farista, membawa pengalaman dan prestasi nonakademik, khususnya di bidang kepramukaan. Sebelumnya ia berhasil meraih predikat Pramuka Garuda tingkat penggalang.
Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan pemetaan awal terhadap murid angkatan pertama menunjukkan keragaman potensi besar, mulai dari bahasa, sains, hingga seni. Ada murid yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Arab, berprestasi dalam olimpiade, serta punya talenta seni. Bahkan, salah seorang murid memiliki pengalaman di bidang seni tari hingga mewakili Indonesia di tingkat internasional.
“Dalam kondisi awal, kami sudah melihat begitu banyak potensi bakat dan minat amat luar biasa. Keragaman ini jadi salah satu pijakan SNT 7 Bogor membangun lingkungan belajar yang memberi kesempatan pada tiap murid untuk berkembang sesuai potensi masing-masing. Sebab, SNT didesain untuk memfasilitasi seluruh potensi bakat dan minat,” ujarnya.
Afni Afiqah Arifin, siswa kelas X SNT 09 Gowa, Sulawesi Selatan, berharap lingkungan pendidikan terintegrasi sebagai ruang untuk mengasah kembali kemampuan kepemimpinannya. Ia pernah menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat kecamatan saat di SMPN 3 Pattallassang.
Atni merasa senang di SNT ada fasilitas seperti Creative Arts Studio dan World-Class Laboratories yang jarang ditemukan di sekolah lain. Fasilitas tersebut menjadi daya tarik utama baginya untuk bereksperimen dan melakukan praktik langsung guna mengembangkan minatnya di bidang sains dan seni.
Mengisi ruang kosong
Dari berbagai SNT yang beroperasi, terurai kisah anak-anak berprestasi yang bahagia mendapat pendidikan yang fokus untuk mengembangkan berbagai potensi tiap siswa. Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, kehadiran SNT untuk mengisi 'ruang kosong' yang belum mampu disediakan oleh sekolah-sekolah standar.
Pembelajaran yang mengintegrasi SMP-SMA dalam satu manajemen ditujukan agar perkembangan bakat murid dapat dipantau secara berkesinambungan. Hal ini didukung oleh tenaga pendidik yang berperan sebagai mentor dan pelatih untuk memicu lahirnya karya-karya terbaik dan prestasi di tingkat internasional.
Selain itu, SNT menyediakan sekolah bermutu secara lebih merata karena setiap kabupaten ada sekolah unggul. "Nantinya sekolah ini akan menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain menyangkut mutu, sistem pembelajaran, dan lain-lain,” kata Mu’ti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/07/20/91980ce68f7f371d9234c6e286501120-SNT1.jpg)
Mu’ti, menekankan, tiap murid memiliki kemampuan dan kebutuhan belajar yang beragam. Karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang memberikan ruang bagi murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
“Model pendidikan khusus ini adalah satu pilihan agar semua siswa dapat tumbuh, dapat berkembang sesuai dengan kemampuan akademik dan bakat-minta yang siswa miliki, dan berkembang menjadi generasi hebat Indonesia 2045,” kata Mu’ti.
Lebih lanjut, kehadiran SNT merupakan wujud nyata visi Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkan pendidikan berkualitas bagi anak-anak Indonesia. “SNT ini merupakan pelaksanaan dari arahan Bapak Presiden untuk memberi layanan pendidikan bermutu dalam membangun generasi dan sumber daya manusia Indonesia unggul,” kata Mu’ti.
Pendidikan bermutu tidak eksklusif
Mu’ti menegaskan, meski pembangunan SNT sebagai model sekolah unggulan dilakukan, Kemendikdasmen berkomitmen tetap mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua, bukan eksklusif bagi siswa-siswa berprestasi. Bagi anak-anak putus sekolah, Kemendikdasmen memberikan layanan pendidikan mudah diakses, fleksibel, dan terjangkau.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/01/02/bf8f3f012adf0b117d785f12af579fcf-20260102_DMS_Tes_Kemampuan_Akademik_1_mumed.png)
Hal ini dilakukan melalui penguatan broad-based education, yakni pendidikan tak terbatas pada sekolah formal, tapi mencakup pendidikan nonformal. Kemendikdasmen mengembangkan berbagai model pendidikan fleksibel, meliputi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), program kesetaraan Paket A, B, dan C, Sekolah Satu Atap, Sekolah Terbuka, serta Community Learning Center atau pusat pembelajaran komunitas.
Mu’ti menjelaskan, Kemendikdasmen memiliki empat infrastruktur utama dalam menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua. Ada infrastruktur fisik melalui revitalisasi sarana fisik dan digitalisasi pembelajaran; sedangkan infrastruktur pedagogis melalui peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru serta penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
Selanjutnya, infrastruktur budaya dan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Program Pagi Ceria, Pramuka, Budaya ASRI, dan pembatasan gawai. Ada juga infrastruktur hukum dan regulasi melalui pemberlakuan Tes Kemampuan Akademik (TKA), penyederhanaan aturan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah, dan pelaksanaan upacara bendera yang dilengkapi dengan pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia.
Penulis: Ester Lince Napitupulu Editor: Evy Rachmawati