Dalam kajian BRIN dari kasus KMP Virgo Transport 8, kondisi laut saat kejadian memang bergelombang, tetapi tingginya berkategori sedang, tidak termasuk ekstrem.
Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
JAKARTA, KOMPAS – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menginstruksikan jajarannya untuk membenahi sistem keselamatan pelayaran karena kecelakaan terjadi berulang dalam waktu berdekatan. Penekanannya pada persoalan penerbitan surat persetujuan berlayar, manifes, hingga pemetaan risiko.
Menhub Dudy Purwagandhi berkoordinasi dengan seluruh jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Laut guna memperkuat pengawasan dan menjamin seluruh sistem keselamatan pelayaran berfungsi. Sistem keselamatan yang ada harus diterapkan di lapangan.
Ia memerintahkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) menjalankan kewenangannya secara tegas dalam penerbitan surat persetujuan berlayar (SPB). Hal itu termasuk menunda atau tidak menerbitkan SPB jika persyaratan keselamatan belum terpenuhi.
”Kalau persyaratan belum terpenuhi, jangan berangkatkan kapal. Kalau ditemukan kekurangan yang membahayakan, hentikan. Kalau cuaca tidak memungkinkan, tunda. Saya akan berdiri di belakang petugas yang berani mengambil keputusan keselamatan yang benar meski keputusan itu tidak populer,” tutur Dudy, dikutip dari siaran persnya, Rabu (16/9/2026).
Selain kelaiklautan, Dudy memerintahkan agar manifes penumpang dan muatan diperbaiki sehingga selalu akurat, aktual, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya di atas kapal. Pencatatan seluruh manifes perlu diperbarui berkala.
Operator juga perlu memastikan sistem manajemen keselamatan tidak berhenti sebagai dokumen ketika dilakukan pemeriksaan, tetapi diterapkan melalui identifikasi risiko dan langkah pengendalian yang nyata. Awak kapal harus memiliki waktu istirahat yang memadai, jumlah personel cukup, serta mampu menjalankan prosedur darurat. Nakhoda juga perlu didukung untuk mengambil keputusan yang mengutamakan keselamatan.
Dari aspek kenavigasian, Dudy memerintahkan agar fungsi peringatan dini dan pemantauan melalui distrik navigasi diperkuat. Ada pula aspek lain yang perlu diperkuat, antara lain Vessel Traffic Services (VTC), stasiun radio pantai, Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), Automatic Identification System (AIS), dan komunikasi kapal.
Informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus diterjemahkan menjadi keputusan operasional dengan mempertimbangkan sejumlah aspek. Beberapa di antaranya adalah kondisi gelombang, angin, jarak pandang, dan kondisi perairan sebelum ataupun selama pelayaran. Kementerian Perhubungan akan lebih bersiaga menghadapi keadaan darurat dengan memastikan kapal patroli, perangkat komunikasi, personel, dan mekanisme koordinasi bersama para pemangku kepentingan.
Dudy meminta agar Dirjen Perhubungan Laut dan seluruh kepala unit pelaksana teknis (UPT) menindaklanjuti arahan ini dengan memetakan risiko prioritas, menentukan langkah korektif, menetapkan penanggung jawab, serta memastikan pelaksanaan di lapangan.
”Terkait kecelakaan ini, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak akan mendahului hasil investigasi. Kita jangan berspekulasi mengenai penyebab kecelakaan. Biarkan proses investigasi berjalan secara profesional dan independen. Namun, jangan menunggu hasil investigasi untuk berbenah,” ujarnya.
Sebelumnya, sederet kecelakaan kapal terjadi dalam waktu berdekatan, setidaknya dalam sebulan terakhir. Setelah Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) dini hari, kapal tunda (tugboat) tenggelam di perairan Bawen, Senin (14/9/2026). Sebulan sebelumnya, KMP Putri Yasmin terbakar di perairan Bali serta KMP Mutiara Sentosa II mengalami kejadian serupa di perairan Pulau Sapudi, Sumenep, Jawa Timur.
Kajian BRIN
Kecelakaan besar terakhir menimpa KMP Virgo Transport 8 rute Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kapal itu terbalik di Laut Jawa pada Minggu dini hari yang mengangkut 243 penumpang dan kru. Dari jumlah itu, 108 orang selamat, sementara 6 orang meninggal sehingga masih ada 129 orang yang dinyatakan hilang.
Sejumlah penumpang selamat menduga, korban yang belum ditemukan kemungkinan masih berada di dalam kapal yang kini dalam kondisi terbalik. Namun, pencarian bawah air, termasuk memasuki bangkai kapal di kedalaman sekitar 30 meter, belum dapat dilakukan. Sebab, kesiapan peralatan jadi tumpuan serta keselamatan tim yang bertugas menjadi pertimbangan utama (Kompas.id, 16/9/2026).
Kelompok Riset Ocean Climate Research Group Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menganalisis kondisi gelombang, pasang surut, dan arus laut saat kejadian. Basis analisis pada KM Virgo Transport 8 hilang kontak di Laut Jawa pada Minggu sekitar pukul 01.00.
Hasil analisis oseanografi mencatat tinggi gelombang signifikan pada 1,56 meter dengan periode sekitar enam detik saat KMP Virgo Transport 8 hilang kontak. Namun, kajian ini bukan bentuk investigasi kecelakaan dan tidak untuk menetapkan penyebab tunggal.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, mengemukakan, kondisi laut di lokasi kejadian memang bergelombang. Namun, tinggi gelombang pada kategori sedang dan tidak termasuk gelombang ekstrem.
Tinggi gelombang signifikan terdeteksi sekitar 1,56 meter dengan periode sekitar enam detik. Angka itu berkategori sedang (1,25-2,5 meter). Kategori tinggi dimulai pada 2,5 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter.
”Gelombang pada malam kejadian didominasi gelombang yang dibangkitkan angin setempat, sekitar 96 persen dari tinggi total, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh. Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan 6,4-8,3 meter per detik atau 12-16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4-5,” tutur Widodo secara tertulis.
Gelombang datang dari arah tenggara-timur, sekitar 122 derajat, sehingga mengenai kapal dari arah samping. Kondisi itu memang bisa mengakibatkan kapal bergerak oleng secara berulang.
Dalam kajiannya, Widodo melanjutkan, periode gelombang, kemiringan kapal yang diteliti berada di bawah ambang kemiringan indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak, serta jauh di bawah kisaran yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak.
Prakiraan hanyut yang tidak memperhitungkan komponen gelombang berpotensi menghasilkan estimasi lintasan hanyut yang berbeda. Arus di lokasi kejadian juga berbalik arah, mengikuti siklus pasang surut sekitar 24 jam. Hal itu perlu diperhitungkan saat memperbarui area pencarian dari satu siklus ke siklus berikutnya.